Sekda Kalbar : Tingkat Literasi Masyarakat Masih Rendah

    Pontianak, jurnalsumatra.com – Sekda Kalimantan Barat, M Zeet Hamdy Assovie, mengatakan saat ini tingkat literasi masyarakat Indonesia masih berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang dikaji oleh Connecticut State University Amerika Serikat.
“Jadi, berdasarkan hasil kajian yang dikeluarkan pada bulan Maret 2016 tersebut, Indonesia dikejutkan dengan rilis dari kajian tingkat literasi negara-negara di dunia oleh menyatakan bahwa dari 61 Negara yang dikaji, Indonesia menduduki peringkat 60, satu peringkat lebih baik dari Negara Bostwana, negara di benua Afrika,” kata M Zeet, saat membuka kegiatan Kalbar Book Fair di Pontianak, Kamis.
Dia mengatakan, begitu rendahnya tingkat minat baca dan budaya literasi masyarakat Indonesia, bahkan kalah jauh dari Negara tetangga terdekat Malaysia, yang mendapat peringkat 53 dalam kajian oleh MLDN CS University tersebut.
Padahal menurutnya, di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), tantangan terbesar yang dihadapi khususnya Kalbar adalah menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil dan memiliki daya saing di tingkat global.
Lebih jauh dia menjelaskan, sebagaimana yang telah dirilis oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada tahun 2015 bahwa penerbitan buku berjumlah 30 ribu judul pertahun. Jumlah tersebut menurutnya sangat kurang dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia ysng berjumlah 250 juta jiwa.
Dengan demikian Pemerintah Kalimantan Barat berinisiatif untuk mengadakan kembali gelar pameran buku (Book Fair) untuk kedua kalinya dengan skala yang dapat dikatakan besar, karena menghadirkan penerbit-penerbit dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, solo dan Kota-kota besar lainnya.
“Bahkan dihadirkan pula penerbit-penerbit lokal, dan diselenggarakan sebagai Pesta Buku Nusantara, dengan harapan adalah penyelenggaraan Book Fair kali ini yang selama ini diselenggarakan di tingkat nasional di Jakarta, dipindahkan dan diselenggarakan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat,” tuturnya.
Dengan harapan dapat meningkatkan minat baca serta mendorong budaya menulis (literasi) masyarakat Kalimantan Barat.
Walau demikian dirinya berpendapat buku sebanyak itu saja masih tidak akan serta merta dapat meningkatkan jumlah pembaca. “Apalah artinya ketersediaan buku bila tidak ada pembacanya, demikian juga sebaliknya, apalah artinya jumlah pembaca yang banyak namun buku-bukunya tidak tersedia,” kata M Zeet.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − 11 =