Siswa SMA/SMK Di Lebak Senang Pendidikan Gratis

       Lebak, jurnalsumatra.com – Sejumlah siswa SMA/SMK di Kabupaten Lebak merasa senang diterapkannya pendidikan gratis yang digulirkan Gubernur Banten Wahidin Halim karena tidak membebani ekonomi orang tua.
“Kami sebagai siswa dari keluarga tidak mampu tentu menyambut positif pendidikan gratis,” kata Opik, seorang siswa Kelas II SMAN 1 Muncang Kabupaten Lebak, Jumat.
Selama ini, dirinya sudah tidak memikirkan lagi biaya pendidikan karena sudah digratiskan oleh pihak sekolah.
Pendidikan gratis jenjang SMA/SMK tentu menjadikan harapan untuk menggapai cita-cita.
Sebelumnya, kata dia, dirinya hampir putus asa untuk berhenti sekolah karena menunggak biaya sumbangan partisipasi pendidikan (SPP) bulanan.
Bahkan, tunggakan SPP pada kelas 10 sebesar Rp700 ribu belum dilunasi.
Namun, pihak sekolah menggratiskan biaya pendidikan karena ditanggung oleh Pemprov Banten melalui bantuan BOSDA sebesar Rp1,1 juta/siswa/tahun.
“Kami tentu merasa senang dan tenang tidak memikirkan biaya SPP bulanan itu,” kata Opik yang *mengaku orangtuanya berprofesi buruh tani.
Begitu juga Gunawan, seorang siswa SMKN 1 Rangkasbitung mengaku dirinya cukup lega setelah sekolah digratiskan pemerintah sehingga tidak memikirkan biaya pendidikan.
Selain itu juga belajar sangat senang karena tidak memikirkan biaya bulanan.
Padahal, dirinya sempat mau putus sekolah saat kelas 10 setelah delapan bulan belum melunasi biaya SPP.

Sebab, orangtuanya sebagai pedagang keliling sudah tidak mampu mmebiayai pendidikan.
“Kami mengapresiasi sekolah gratis sehingga siswa dari keluarga tidak mampu ekonomi bisa melanjutkan pendidikan,” katanya.
Kepala SMAN 1 Muncang Kabupaten Lebak, Sutarno mengatakan pihaknya menyosialisasikan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 31 Tahun 2018 Tentang Pendidikan Gratis SMA/SMK dan sederajat pada siswa dan masyarakat.
Pendidikan gratis itu secara psikologi akan mendorong para siswa fokus belajar saja karena sudah tidak memikirkan biaya sekolah.
Selain itu juga tidak membebani ekonomi orang tua, apalagi siswa di sini kebanyakan dari kalangan keluarga tidak mampu.
Kebanyakan orang tua mereka berprofesi buruh tani, buruh bangunan dan pengojek motor.
“Kami minta siswa benar-benar belajar karena biaya pendidikan gratis,” katanya.
Sutarno mengatakan, siswanya yang kebanyakan tinggal di pelosok-pelosok desa terpencil di Kabupaten Lebak kini mereka bersemangat berlajar tanpa biaya pendidikan itu.
Kehadiran siswa untuk mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (KBM) cukup tinggi dan tidak terdapat izin.
Proses KBM mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 15.30 WIB dengan jumlah siswa sebanyak 520 anak dan 28 guru.
“Kami yakin pendidikan gratis itu bisa mengendalikan putus sekolah jenjang SMA/SMK,” katanya.(anjas)

Leave a Reply