SMN Riau Diminta Berbagi Cerita Tentang Maluku

     Ambon, jurnalsumatra.com – Para pelajar asal provinsi Riau yang mengikuti program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) 2018 di Provinsi Maluku, diminta dapat membagi cerita tentang daerah yang dikunjungi kepada teman dan kerabatnya saat kembali ke daerah asal.
“Para peserta SMN diharapkan dapat menjadi corong untuk membagi cerita dan kenangan yang diperoleh selama berkunjung di Maluku kepada sesama pelajar, keluarga maupun masyarakat lainnya di Provinsi Riau bahwa Ambon dan Maluku adalah daerah aman dan cocok untuk dikunjungi,” kata Kepala Cabang PT Jasa Raharja Persero Maluku, Zet Toding, saat pelepasan dan perpisahan peserta SMN asal Riau di Ambon, Kamis (23/8) malam.
Menurutnya, selama berkunjung ke Kota Tual dan Ambon sejak 14 Agustus 2018, 23 siswa asal Riau telah mempelajari banyak hal, baik tentang kebudayaan dan adat istiadat masyarakat, juga mengunjungi objek peningalan sejarah, budaya serta wisata budaya.
“Semua yang dikunjungi dan dipelajari merupakan bagian penting bagi para siswa untuk mengenal keragaman Budaya Nusantara terutama di Maluku yang terkenal dengan hubungan kekerabatan dan persaudaraan antarsesama umat beragama,” katanya.
Dengan berbagi cerita kepada sesama siswa, keluarga kerabat, maka para siswa SMN Asal Riau telah ikut berpartisipasi mengenalkan Provinsi Maluku kepada masyarakat di tanah air.
Menurutnya, peserta SMN yang merupakan program Kementerian BUMN dengan motto BUMN Hadir Untuk Negeri (BHUN), merupakan siswa pilihan dan terbaik dari setiap provinsi serta memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga berbagai pengetahuan yang didapat akan bermanfaat untuk menambah wawasan serta kecintaan terhadap Indonesia.

“Para siswa harus bangga karena terpilih mewakili 8.000 siswa SMA dan sederajat di Riau untuk berkunjung ke Maluku yang dikenal sebagai ‘bumi Raja-Raja’ atau provinsi seribu pulau. Karena itu jadilah bagian dari generasi muda Maluku untuk menyosialisasikan dan menceritakan keindahan alam serta keramah tamahan masyarakat di daerah ini,” tandasnya.
Zet juga berharap setelah kembali ke daerah asal, para siswa tidak tetap menjalin komunikasi dengan anggota keluarga baru yakni orang tua asuh yang menampung mereka selama tiga hari terakhir berada di Kota Ambon, sebagai bagian membangun silaturahmi dan kekeluargaan.
Pelepasan dan perpisahan peserta SMN asal Riau yang dihadiri “bapa piara” dan mama piara” atau orang tua asuh diwarnai isak tangis haru antara para siswa dengan anggota keluarga barunya tersebut.
Suasana haru semakin terasa saat para siswa didaulat menyanyikan lagu “Gandong” (saudara sekandung) yang baru dipelajari beberapa hari terakhir. Sontak siswa bersama orang tua asuhnya terlihat saling berpelukan sambil menangis.
“Rasanya sulit dilukiskan, saya merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berarti karena harus berpisah dengan keluarga di Ambon yang baru saja dikenal dalam beberapa hari terakhir,” ujar Rizka Ramadani Kana, siswa kelas XI SMA Binaan Khusus Dumai, Provinsi Riau.
Riska mengaku saat tinggal bersama orang tua asuh, ia merasa sangat disayang keluarga sendiri, penuh dengan suasana keakraban dan kekeluargaan.
Dirinya juga mengaku mendapat pelajaran sangat berharga selama berkunjung ke Kota Tual dan Ambon, terutama membangun kehidupan yang harmonis dan rukun antarsesama dalam nuansa kekeluargaan dan persaudaraan, tanpa memandang latar belakang maupun suku.(anjas)

Leave a Reply