SMP Baturaja Titik Penilaian Adipura

BATURAJA, Sumsel, jurnalsumatra.com –  Sebagai sekolah percontohan berbagai terobosan telah dilakukan pihak SMP Negeri 13 Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) untuk mendukung program Pemkab setempat. Sekolah negeri itu saat ini dipilih menjadi salah satu titik penilaian Piala Adipura.

“Ya, kita saat ini sudah memiliki bank sampah sendiri. Bahkan, para siswa juga kita latih agar bisa mengolah sampah menjadi karya seni yanh bisa dijual di pasaran,” beber Kepala Sekolah (Kasek) SMP N 13 Baturaja, Marzuan Spd MM didampingi Guru Kesenian dan Kreatif  Sinta Deviana, saat dibincangi Rabu (14/2/2018).

Menurut dia, sadar dan bersih sampah itu sudah diterapkan di SMP N 13 Baturaja. Bahkan sejak ada bank sampah para siswa bisa menabung sampah dan nantinya hasil kembali ke siswa itu sendiri.

Tujuannya selain untuk mendidik anak menjadi kreatif dalam menanggulangi sampah, kata Marzuan, hal ini juga dilakukan untuk mendukung program pemerintah daerah untuk mempertahankan Piala Adipura yang telah berhasil dicapai tahun lalu.

“Untuk menanggulangi masalah sampah di sekolah ini kita tidak hanya mengandalkan bank sampah saja. Bahkan limbah sampah juga diolah menjadi karya seni oleh murid-murid di sekolah. Hal ini dilakukan melalui mata pelajaran kulikuler prakaria. Kita juga tidak menerapkan pembakaran sampah, jadi untuk sampah-sampah yang tidak bisa dioleh kita tampung dan nanti diangkut oleh mobil pengangkut sampah,” ceritanya.

Disamping itu terpantau dilapangan, sampah-sampah seakan disulap menjadi beberapa karya seni. Contohnya bekas kulit atau serat batang pisang dibuat menjadi kota tisu. Ada juga limbah bekas sedotan dirangkai menjadi telapak meja. Uniknya lagi, ada beberapa  karya seni yang dibuat oleh pelajar SMP tersebut menjadi lukisan pajangan dinding.

Layaknya kaligrafi, kelinci sedang mencari makan yang terbuat dari biji padi dan beras yang dirangkai sedemikian rupa di dasar kertas karton hingga persis menjadi lukisan hewan kelinci mencari makanan wortel.

Karya seni itu dibingkai rapi dan siap untuk dipajangkan untuk menghiasi dinding. Masih banyak lagi karya lainya. Seperti biji jagung diolah menjadi lukisan pemandangan kupu-kupu yang sedang terbang di alam terbuka. Ada juga menjadi burung hantu dan bekas limbah batok kelapa diolah menjadi asbak rokok.

“Rencananya karya seni ini akan kita jual kepada pihak bank sampah dan uangnya akan diserahkan kepada siswa yang telah membuat karya seni itu,” tandansnya. (Andrizal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + 4 =