Sosok Gubernur Sumsel 2018

Oleh Drs Lubis Rahman wartawan Jurnalsumatra

Genderang pemilihan Gubernur Sumatera Selatan 2018 sudah dibunyikan. Beberapa bakal calon Gubernur sudah digadang-gadang berpeluang besar menjadi orang nomor satu di Bumi Sriwijaya ini mulai dari mereka pimpinan partai sampai yang tidak.

Dan mereka masing-masing kubu mengklaim bahwa kandidat atau jogaannyalah yang bakal menang. Ada Herman Deru, Dodi, Reza, Ishak Mekki, Giri dan Aswari.

Masing-masing kandidat ini memiliki  kekuatan masing-masing dan sudah tidak bisa diragukan lagi baik segi pengalaman dan memilik masa militan.

Herman Deru pengalaman dua kali menjadi bupati OKUT yang berkeyakinan 2018 ini akan berpihak kepadanya, meski bukan pimpinan partai, dua partai mengusungnya yakni Nasdem dan PAN akan mengantarkan dirinya pimpin Sumatra Selatan, berpasangan dengan Mawardi Yahya.

Dodi Reza Alex Noerdin, putra tertua Alex Noerdin ini tidak diragukan lagi dalam hal kepemimpinan dan memiliki kapabilitas yang cukup tinggi, selaku orang muda Dodi saat ini sebagai Bupati Musi Banyuasin pernah dua periode duduk sebagai anggota DPR RI dan saat ini sebagai pengurus DPP Partai Golkar.

Partai Golkar mempercayakan kader muda ini untuk memimpin Sumatera Selatan lima tahun kedepan,meskipun bukan pimpinan partai, akan tetapi orang tuanyalah pimpinan partai.

Aswari Rivai, Bupati Kabupaten Lahat ini juga memiliki kans yang sangat kuat untuk merebut kursi Gubernur pasca Alex Noerdin, dia juga sebagai Ketua DPD Partai Gerindra, Aswari, yakin partai yang mengusungnya memiliki basis suara yang signifikan, apalagi sebagai Bupati aktif Aswari sudah membuktikan memimpin Kabupaten Lahat selama dua periode.

Ishak Mekki pernah menjadi bupati OKI ini, dan kini menjabat orang nomor dua di Sumsel merupakan pimpinan partai (Demokrat) berpeluang sama menjadi gubernur Sumsel mendatang.

Giri yang kini menjabat Ketua DPRD Sumsel dan Ketua PDIP Sumsel ini memiliki peluang yang besar bisa memimpin Sumsel lima tahun kedepan.

Semua ini tergantung rakyat Sumsel mau pilih siapa?, rakyat yang cerdas akan memilih pemimpinnya  yang cerdas pula, jangan sampai salah pilih, jika salah pilih rakyat yang akan rugi selama lima tahun.

Memilih pemimpin itu tidak sulit, akan tetapi yang jelas siapa yang kita pilih itu akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.

Pinjam pendapat Asnadi Muhammad, pilkada serentak sebagai pemicu terjadi anomali politik. Dukungan parpol tidak selalu berbanding lurus.

Partai A tingkat provinsi dukung cagub/cawagub B, tapi partai A tingkat kab/kota dukung cabub C. Apakah ini yang disebut politik itu dinamis? atau sistem politik kita yang amburadul…sehingga rentan terjadi perpecahan.

Tentunya kita tidak menginginkan hal seperti ini terjadi, politik ya politik, kalah ya kalah, dan menang ya menang.

Coba kita mencontoh pertandingan tinju kelas dunia, meski sudah berdarah-darah dan kalah pula  tapi masih tetap sportivitas bersalaman dan mengakui kalah dan yang menang tidak jumawa, semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + seventeen =