Stasiun Banjarsari Diserbu IRT

Lahat, Sumsel, jurnalsumatra.com – Aksi spontan yang dilakukan para ibu rumah tangga (IRT) kembali terjadi. Kali ini, giliran di seputaran Stasiun Banjarsari Desa Arahan, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat.

Kedatangan para kaum hawa ke Stasiun Banjarsari ini, pada Selasa (23/10/2018) guna menuntut haknya berupa uang kompensasi debu yang belum dibayarkan selama dua bulan terakhir.

Namun, perusahaan swasta yang menggali perut bumi di Kabupaten Lahat tersebut, lagi lagi melenceng dari perjanjian yang sebelumnya telah disepakati. Dalam perjanjian itu, perusahaan siap mengucurkan dana sebesar 5 juta rupiah untuk pembersihan rumah yanh terdampak volusi debu atas aktivitas pengangkutan batubara dari Prabu Menang ke Stasiun Banjarsari Desa Arahan.

Tak pelak, aksi protes yang dilakukan oleh ibu ibu rumah tangga tersebut, berbuntut pada lumpuhnya aktivitas perusahaan PT. Golden Great Borneob(GGB). Sebab, dua bulan tidak dibayarnya uang debu oleh perusahaan.

“Sebelumnya perjanjian tersebut telah disepakati oleh pihak perusahaan. Akan tetapi, sejak dua bulan terakhir uang debu itu tak kunjung ibu ibu rumah tangga yang ada tidak menerimanya,” tutur Sulasti (34) salah satu pendemo.

Menurutnya, sejak dibukanya stasiun Banjarsari untuk aktivitas angkut Batubara membuat kondisi tidak nyaman karena debu yang dihasilkan. Karenanya, kiranya perusahaan terkait seperti PT GGB harus dapat menepati janji dengan membayar uang konpensasi yang pernah dijanjikan.

“Terus terang kalau boleh jujur rumah kami tidak senyaman seperti sebelumnya. Dan, akibat aktivitas yang ada, debu Batubara yang dihasilkan menimbulkan polusi yang buruk bahkan baru saja pintu dibuka lantai sudah hitam karena debu Batubara,” tambahnya dengan nada keras.

Sementara, Cama Merapi Selatan Miharta, SE MM menegaskan, agar persoalan yang ada segera direalisasikan melalui jalur musyawarah. Pihak kecamatan sendiri siap untuk duduk bersama guna mencari solusi yang terbaik.

“Setidaknya, harapan kita terkait persoalan yang ada agar segera dapat diselesaikan dengan kepala dingin. Apalagi ada beberapa perusahaan yang mengangkut Batubara lewat jalur KA distasiun Banjarsari sehingga benar-benar harus diselesaikan agar tidak berlarut,” pesan Miharta secara tegas.

Intinya, kata Miharta, kalau tidak mau ada permasalahan lagi untuk ke depannya, alangkah baiknya dapat segera diselesaikan. Karena, disini ada beberapa perusahaan yang bheraktivitas angkut Batubara ada beberapa perusahaan tidak hanya PT GGB sehingga semuanya harus memberikan jawaban terkait aksi yang dilakukan masyarakat.

Samadin, Humas perusahaan ketika dibincangi mengaku, sebenarnya peristiwa itu terjadi hanya karena terjadi kesalahpahaman saja karena tidak ada niat untuk tidak membayar uang debu bulanan sebesar Rp. 5 juta yang disepakati namun karen ada mekanisme dan harus dibicarakan bersama sehingga manajemen tidak mengambil keputusan perseorangan.

“Kami siap untuk melaksanakan kesepakatan antara warga dan perusahaan, cuma waktu saja yang kadang bergeser. Karna namanya perusahaan, ada aturan dalam mengeluarkan uang. Namun, kami tidak akan lari dari kesepakatan,” kilah Samadin. (Din)

Leave a Reply