Studi Banding Mor II Diduga Tak Ada Hasil

Lahat, jurnalsumatra.com  –  PT. Pertamina (Persero) mencatatkan kerugian US$761,23 juta atau sekitar Rp10,85 triliun apabila mengacu pada kurs per 30 Juni 2020 Rp14.265. 

Namun, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Lahat Raya meminta  Pertamina MOR II berinovasi dalam mendistribusikan barang hajat hidup orang banyak agar tepat sasaran, jangan hanya gemar studi banding, namun hasilnya nihil.

Kita harus pahami dulu kondisi di lapangan. Jangan hanya keinginan selalu studi banding, tapi pulang tidak bisa bikin apa-apa,” ujar Ketua YLKI Lahat, Sanderson Syafe’i, ST. SH, dalam keterangan persnya, Senin (14/09/2020). “Studi banding perlu untuk melihat perubahannya, lalu apa yang (perlu) berubah, apa yang tidak,” sambung Sanderson.

Menurutnya, keberhasilan pendistribusian barang subsidi ini harus dilihat secara luas permasalahan dilapangan dahulu, untuk mengambil langkah yang kreatif dan inovatif. Hal inilah yang harus mulai dari sasaran dibawah sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Tak lupa, Sanderson mengingatkan, kreativitas dan inovasi untuk pengembangan pola pendistribusian LPG 3 Kg harus sinergi dengan perkembangan saat ini dan kebutuhan masyarakat.

Sanderson memahami, semua pemimpin memiliki gaya memimpin masing-masing. Namun, gaya kepemimpinan itu diharapkan bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Untuk itu, disampaikannya, kalau para petinggi di MOR II SUMBAGSEL memiliki sensitifitas yang besar maka anggaran negara untuk studi banding ke luar daerah itu bisa digunakan langsung untuk membenahi atas dugaan temuan pangkalan yang banyak menyimpang, menyiapkan data base RTM terlebih dahulu sebagai sasaran utama sesuai Peraturan Presiden Nomor : 104 tahun 2007, dan Peraturan Menteri ESDM Nomor : 21 tahun 2007 tentang penyediaan, pendistribusian dan penetapan harga elpiji 3 kg. Bahwa elpiji 3 kg hanya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dengan penghasilan dibawah Rp 1,5 juta per bulannya, serta untuk kegiatan Usaha Kecil Menengah (UKM), yang ada GM MOR II seolah menutup celah dengan mengabaikan beberapa kali komunikasi diajukankan oleh YLKI Lahat melalui Surat Audensi resmi.

Kalau mau belajar pendistribusian elpiji bersubsidi tepat sasaran, mereka mestinya membenahi dulu sistem dilapangan mulai dari melengkapi data Rumah Tangga Miskin (RTM) hingga letak pangkalan menyesuaikan kebutuhan (dari bawah keatas, bukan sebaliknya numpuk dikawasan elit), agar sepulang dari sana, mereka bisa menerapkan. Dimana saat ini hampir semua pangkalan tidak memiliki data base RTM, yang ada bagaimana menghabiskan stok elpiji secara cepat dengan keuntungan besar “dijadikan ajang bisnis”, tegas Sanderson.

“Tapi apa boleh buat, fasilitas studi banding memang menggiurkan dinikmati pula oleh para Agen LPG 3 Kg. Namun hingga saat ini pola pendistribusian tetap tidak tepat sasaran, maka YLKI Lahat meminta kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengaudit atas dugaan pemborosan keuangan ini dan dugaan kecurangan Agen elpiji bersubsidi ini serta jika ditemukan tidak ada manfaatnya kegiatan tersebut maka wajib mengembalikan kerugian keuangan negara tersebut”, lanjutnya.

Karena kemanapun studi banding dilakukan, jika tidak dibarengi dengan pola perbaikan data base dan pengawasan serta tindakan tegas hasilnya akan sia sia.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Pertamina (Persero) tentunya senantiasa menjunjung tinggi bentuk transparansi dan keterbukaan informasi kepada masyarakat. Langkah kongkretnya penggunaan anggaran harus dilaporkan memang tepat sasaran dan bermanfaat bagi RTM.

Diberitakan beberapa waktu lalu, PT. Pertamina MOR II Region Manager Communication, Relations & CSR SUMBAGSEL, Dewi Sri Utami, melakukan studi banding untuk memperoleh gambaran pelaksanaan kartu kendali oleh Pemkot Jambi sebagai salah satu upaya agar pendistribusian tabung LPG 3 kg bersubsidi tepat sasaran bagi masyarakat pra sejahtera dan usaha mikro.

Adapun peserta studi banding sendiri diikuti Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kota Pagaralam, Dawam SH. MH dan Syaifullah Aprianto. ST selaku Kabag SDA Kabupaten Lahat. Turut mendampingi dari Pertamina diwakili SBM Rayon IV Sumsel Babel, Adamilyara Aqil. A dan para Agen.

Terakhir sekitar pukul 21.50 WIB MOR II Linggau Bang Aqil ketika ditelp no 0811 9579 XXXX oleh wartawan jurnalsumatra.com untuk konfirmasi terkait studi banding tersebut tidak diangkat, hingga berita ini diturunkan belum mendapat jawaban. (Din)