Studi Kelayakan Proyek Jembatan Palmerah Hampir Rampung

     Kupang, jurnalsumatra.com – Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur, Andre Koreh mengatakan, studi kelayakan  proyek pembangunan Jembatan Palmerah Pancasila yang menghubungkan Pulau Flores dengan Adonara di Kabupaten Flores Timur, hampir rampung.
“Studi kelayakan itu ditangani Balai Jalan Nasional dan dalam bulan November ini sudah bisa rampung. Hasil studi kelayakan ini akan diserahkan kepada investor untuk penanganan lebih lanjut,” kata Andre Koreh kepada Antara di Kupang, Selasa.
Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan perkembangan FS proyek Jembatan Pancasila Palmerah dan pembangun listrik tenaga arus laut di Selat Gonsalu, Kabupaten Flores Timur.
Studi kelayakan proyek ini dilakukan oleh PT Bunana Archikom.
Mengenai “Detail Engineering Study” (DED), Andre Koreh mengatakan, sesuai dengan kesepakatan, DED dan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) menjadi tanggung jawab investor.
Andre Koreh berharap proses persiapan ini bisa rampung dalam bulan November ini sehingga rencana peletakan batu pertama pembangunan jembatan ini bisa dilaksanakan pada 20 Desember 2017.
Secara terpisah, Juru Bicara Tim konsorsium Belanda, Latif Gau mengatakan, untuk proyek Tidal Bridge Larantuka, pihaknya sudah membuat pra studi kelayakan dan sudah beberapa kali mengunjungi lokasi.
Saat ini, kata dia, pihaknya sedang melakukan Amdal.
Proses Amdal ini diperkirakan baru akan selesai pada Mei atau Juni tahun 2018 dan akan dilanjutkan dengan pekerjaan konstruksi.
“Sejauh ini sudah tidak ada kendala bagi konsorsium Belanda untuk segera memulai konstruksi di lapangan, tetapi kami harus tetap melaksanakan Amdal sesuai undang-undang sebelum konstruksi, walaupun dari analisa Amdal sementara sangat layak dan siap untuk konstruksi,” katanya.
Mengenai pembiayaan, dia mengatakan, Pemerintah Belanda memberikan dukungan penuh bagi pembiayaan proyek pembangunan Jembatan Palmerah Pancasila.
“Kalau menyangkut pembiayaan, proyek ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Belanda melalui Bank Pembangunan Belanda (FMO),” kata Latif Gau.(anjas)

Leave a Reply