Sukhrowardi Soroti Beragam Masalah Selama 100 Hari Jadi Legislator

Banjarmasin, jurnalsumatra.com – Anggota DPRD Kota Banjarmasin menyoroti beragam masalah di ibu kota provinsi Kalimantan Selatan dalam 100 hari sudah menjadi anggota legislatif di daerah tersebut.

  Sukhrowardi adalah politisi Partai Golkar yang terpilih pada Pemilu 2019 untuk daerah pemilihan Banjarmasin Utara, saat ini sebagai Ketua Fraksi Golkar di DPRD Banjarmasin, anggota Komisi III dan anggota Badan Anggaran (Banggar).

  Menurut Sukhrowardi, dalam acara bincang-bincang lika-liku selama 100 hari Sukhrowardi menjadi wakil rakyat di RM Come N Go di jalan Lingkar Dalam Selatan Banjarmasin, Minggu, sejak dilantik pada 9 September 2019 lalu, dirinya banyak menyoroti masalah pembangunan di kota ini, khususnya masalah infrastruktur.

  Dikatakan dia, sebagai anggota Komisi III yang mengawasi tentang pembangunan infrastruktur, dirinya menilai pembangunan infrastruktur di kota ini banyak yang tidak terkonsep dengan baik.

  Dia mencontohkan dibangunnya wisata kuliner Baiman di Jalan Lingkar Dalam Selatan itu, sebagai tempat alternatif memindah PKL di Jalan Protokol Ahmad Yani, di mana akhirnya tidak berkembang, bahkan banyak pedagang yang “nyerah”.

  Selain itu, beber dia, terkait pembangunan taman edukasi yang berada di dekat mal, ditengarai pula tidak terkonsep dengan baik hingga jadi polemik.

  “Ada juga pembangunan infrastruktur seperti jembatan dititik yang tidak begitu genting padahal ada titik yang lebih genting perlu diperbaiki cepat,” papar Sukhrowardi.

  Hal-hal yang seperti inilah yang ditemuinya selama menjalankan fungsi sebagai wakil rakyat, tapi tidak hanya pembangunan infrastruktur, tapi juga di bidang lain seperti kesehatan dan pendidikan juga yang terus jadi sorotannya dari kebijakan pemerintah.

  “Saya berjuang agar ada perubahan bagi kesejahteraan masyarakat dan perbaikan pembangunan di kota ini, meskipun penuh tantangan,” tuturnya.

  Sebab, ungkap Sukhrowardi, tantangan itu bukan hanya dari luar, tapi juga dari internal di DPRD sendiri, karena pemikiran dan kepentingan yang berbeda.

  Dirinya hanya berharap, ada warna baru di gedung dewan, yakni semua penghuninya betul-betul menjadi pejuang untuk aspirasi rakyat, tidak hanya datang, duduk, diam, pulang lalu terima gaji.

  “Saya tidak ingin seperti itu, makanya saya sering lantang bersuara, karena saya anggap itu keharusan sebagai anggota dewan yang menegang amanah rakyat,” pungkasnya.(anjas)