Susur Sungai SMPN 1 Turi Sleman Berakibat Musibah

Sleman, jurnalsumatra.com – ┬áMusibah kecelakaan susur sungai terjadi pada Jum’at (21/2/2020) di sungai Sempor, Dusun Dukuh, Donokerto,Turi, Sleman, menimpa siswa SMP Negeri 1 Turi kelas 7 dan 8.

Sebanyak 257 orang yang sedang mengadakan kegiatan Pramuka berupa susur sungai Sempor itu tanpa melihat kondisi cuaca dan tiba-tiba terjadi banjir yang mengakibatkan hanyutnya siswa tersebut.

Musibah itu berlangsung sangat cepat saat banjir datang dari arah hulu (utara). Waktu itu susur sungai dilakukan pukul 13.30 WIB, tepatnya di bawah jembatan biru, didampingi 3 guru pembimbing dan 1 pendamping seorang office boy sekolah. 

Pada awalnya tidak banjir ketika susur sungai itu melawan arus: arah selatan ke utara. Tapi tiba-tiba ada salah satu siswa yang bermaksud menolong temannya yang sedang berada di atas batu di tengah sungai. 

Dan siswa tersebut berusaha menolong dengan mengulurkan tongkat Pramuka. Namun malah terjatuh dan terseret arus. Seorang pendamping berusaha menolong siswa yang terseret itu. Tapi malah juga ikut terseret.

Para siswa lantas panik dan berusaha menyelamatkan diri. Beruntung ada warga berada di pinggir sungai yang langsung mengarahkan siswa untuk naik agar terhindar dari terjangan arus sungai.

Salah satu orang tua murid mengaku anaknya selamat meski sempat terseret sekitar 100 meter. Meski lecet di kaki dan tangan bisa selamat. 

Berkaitan hal itu Kapusdatinkom Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menyatakan, susur sungai hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa dan terlatih. Selain itu, anak-anak dan remaja dilarang susur sungai. “Dan yang terpenting, susur sungai dilakukan pada saat musim kemarau,” paparnya.

Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta, Pristyawan, mengatakan jumlah korban bertambah menjadi 7 orang setelah laporan terakhir didapat pada Sabtu (22/2/2020) pukul 04.30 WIB.

Total ada 23 orang korban yang mengalami luka-luka akibat terbawa arus Sungai Sempor, 2 orang di antaranya yang masih menjalani rawat inap di Puskesmas Turi Sleman.

Adapun korban meninggal dunia adalah: Sovie Aulia, Arisma Rahmawati, Nur Azizah, Latifa Zulfaa, Khoirunnisa Nurcahyani, Fanea Dida dan Evieta Putri Larasati. 

Sementara itu, 3 siswa yang belum ditemukan adalah: Yasinta Bunga, Zahra Imelda dan Nadine Fadilah.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan bela sungkawa atas musibah yang baru saja terjadi. 

Selain itu, Sri Sultan HB X juga menyesalkan adanya kegiatan yang dilakukan di sungai saat masih musim penghujan. 

“Kegiatan semacam itu jelas membahayakan keselamatan siswa,” kata Sri Sultan HB X, yang berharap pihak sekolah harus bertanggungjawab atas kejadian ini.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo,

MSi, mengatakan, peristiwa yang menimpa siswa SMP Negeri 1 Turi Sleman merupakan kesalahan fatal. “Dalam situasi musim hujan siswa kok disuruh melakukan kegiatan susur sungai,” kata Sri Purnomo. 

Menurut Sri Purnomo, melaksanakan kegiatan di sungai saat musim hujan sangat berbahaya. “Dan itu sebuah kecerobohan,” tandas Sri Purnomo, Jum’at (21/2/2020) malam.

Dijelaskan Sri Purnomo, seharusnya pihak sekolah tidak sampai melakukan kegiatan yang berisiko terlebih bila guru ataupun pembina sekolah bisa membaca situasi di lapangan. 

Forum Komunikasi Desa Wisata Sleman menjelaskan, kegiatan itu dilakukan secara mandiri tanpa koordinasi ataupun diketahui pengelola desa wisata setempat.

Desa wisata di Sleman telah menerapkan SOP keselamatan bagi wisatawan yang menikmatinya atraksi wisata susur sungai ataupun atraksi berisiko lainnya.

Adanya peristiwa membuat Fathuddin Muchtar, Ketua Pengurus Yayasan Samin, turut prihatin. “Meski kegiatan susur sungai merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pramuka di sekolah kok hal itu tidak direncanakan dengan baik,” kata Fathuddin Muchtar, Sabtu (22/2/2020).

Mencermati kejadian tersebut, Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (Samin) Yogyakarta, sebagai salah satu LSM yang peduli pada perlindungan anak berharap agar peristiwa itu tidak terulang lagi di masa mendatang.

Selain itu meminta pertanggungjawaban pihak SMPN 1 Turi atas kecerobohan yang 

dilakukan. “Sehingga kejadian tersebut menimpa siswa-siswa mereka,” tandas Fathuddin Muchtar.

Juga meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman untuk melakukan pengawasan 

terhadap seluruh rangkaian kegiatan belajar-mengajar di sekolah agar memperhatikan kepentingan dan keselamatan anak sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No. 35 tahun 2014 dan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Saat ini, tim SAR gabungan masih lakukan pencarian. Dan pencarian itu dilakukan di berbagai titik, baik di perairan maupun di daratan. (Affan)