Terdakwa 16 Kilo Shabu Divonis Hukumam Mati

Lahat, jurnalsumatra.com – Sidang kasus kurir Narkotika jenis Shabu yang kedapatan membawa 16 kilo shabu dengan menggunakan kendaraan jenis Avanza berwarna hitam dengan Nopol BL 1395 NG yang terjaring Polisi Satlantas Polres Empat Lawang dalam razia, kembali digelar pada Rabu (1/4/2020)

Dalam sidang tersebut, terdakwa bernama Adnan ini di Vonis Hukuman Mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Lahat setelah dituntut seumur hidup oleh Penuntut Umum Kejaksaan Negeri 4 Lawang.

Ditengah merebaknya wabah virus Covid-19 dan bertempat di Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Lahat, Majelis Hakim yang diketuai langsung Ketua Pengadilan Negeri Lahat YM Yoga D A Nugrohom S H M H, dengan Hakim anggota 1 YM Verdian Martin SH, dan Hakim anggota 2 YM Saiful Brow SH menjatuhkan vonis mati terhadap terdakwa Adnan warga asal Kabupaten Aceh Utara Kecamatan Sawang yang ditangkap anggota Satlantas Polres Empat Lawang pada Selasa (20/08/2019) sekitar pukul 08.00 WIB.

Saat itu terdakwa Adnan yang sedang melintas di Talang Gunung Kelurahan Jaya Loka Tebing Tinggi, diberhentikan oleh anggota polantas yang sedang melakukan razia. Saat diberhentikan, Terdakwa sempat pucat dan gugup saat ditanya hendak kemana, karena merasa curiga dan ada yang tidak beres maka anggota polisi tersebut pun menanyakan apa yg terdakwa bawa di bagasi belakang mobil yg dikendarainya.

Dicky Syarifudin SH MH selaku Hakim Juru Bicara pada Pengadilan Negeri Lahat menguraikan, terdakwa mengaku bahwa tas bawaan yg ada di belakang mobil tersebut berisikan baju milik terdakwa. Akan tetapi, karena gerak-gerik terdakwa yg mencurigakan maka beberapa anggota polisi yang turut menjadi saksi dipersidangan itu pun memeriksa dan membuka tas tersebut dan didapati bahwa isinya adalah narkotika jenis shabu-shabu dengan berat hampir 16 kilogram dan beberapa butir pil extasy. Dan tidak berhenti disitu, setelah dilakukan tes urine terhadap Terdakwa didapati hasil bahwa urine Terdakwa pun positif mengandung methampetamina.

Terkait fakta-fakta yg diperoleh dipersidangan tersebut terdakwa menyangkal semua barang bukti yg ditemukan dan terdakwa tidak mengetahui sama sekali karena bukan milik terdakwa. 

Terhadap hal tersebut, Majelis hakim dalam pertimbangan hukumnya berpendapat  penyangkalan terdakwa tersebut tidak didukung oleh alat bukti yang sah. “Maka penyangkalan terdakwa tersebut hanyalah merupakan suatu Alibi Terdakwa belaka yg tidak berdasar hukum” Kata Ketua Majelis saat membacakan putusannya.

Selain itu dalam hal penjatuhan vonis Mati tersebut, Majelis hakim mempertimbangkan beberapa hal-hal yg memberatkan terhadap diri Terdakwa sedangkan hal-hal yg meringankan tidak ada.

Persidangan dengan agenda pembacaan putusan tersebut dilaksanakan jarak jauh secara online, sesuai dengan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 1 tahun 2020, dengan menggunakan aplikasi Skype yang terkoneksi dengan pihak Penuntut Umum di kantor Kejaksaan Negeri Empat Lawang sedangkan Terdakwa tetap berada di dalam ruangan yg disediakan di dalam Lapas/Rutan kabupaten Empat Lawang.

Ditambahkan, Hakim/Humas juru Bicara PN Lahat menjelaskan, bahwa putusan ini diharapkan dapat menjadi atensi bagi masyarakat khususnya di Sumatera Selatan agar tidak bermain-main apalagi menyalahgunakan dan ikut dalam peredaran gelap Narkotika jenis apapun itu. 

“Karena tindak pidana Narkotika merupakan salah satu kejahatan Extra ordinary crime maka penegakan hukumnya pun harus keras dan tegas hingga diharapkan dapat menjadi efek jera bagi pelaku-pelaku lain agar segera menghentikan kegiatannya” Imbuh Hakim yang baru 15 hari lalu pulang dari Diklat Hakim Juru Bicara Pengadilan di Mega Mendung Bogor.

“Dari vonis tersebut Terdakwa dan Penasihat Hukumnya yaitu Imam Rustandi SH. Dari posbakum LBH Serelo Lahat diberikan waktu 7 hari untuk menyatakan sikap di kepaniteraan pidana sebagaimana telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP),” kata Dicky. (Din)