Terkuak Dalam Sidang Warga Tak Pernah Terima Ganti Rugi

Lahat, Sumsel, jurnalsumatra.com – Sidang lanjutan kasus sengketa lahan milik warga VS PT Arta Prigel terus berlanjut. Senin (28/5/2018) dengan Agenda Pembuktian terkuak dalam meja persidangan dugaan pihak perusahaan sawit terbesar ini, terbukti warga pemilik lahan tidak pernah menerima ganti rugi.

Dahlian salah satu warga yang tanahnya sampai sekarang disnyalir diserobot PT Arta Prigel dan tidak pernah mendapat ganti rugi mengatakan, gugatan tersebut sudah lama dirinya melayangkan kepihak terkait, namun, tidak ada gubrisan sama sekali.

“Sehingga, saya menggunakan penggecara. Harapan saya dengan sidang ini ketua Majelis dapat memberikan keputusan yang seadil adilnya, terhadap kami masyarakat kecil ini yang menuntuk hak kami untuk dikembalikan lagi, ” cetusnya di Pengadilan Negeri (PN) Lahat, saat sebelum sidang penyerahan surat bukti dari pihak Tergugat, PT. Arta Prigel dan Turut Tergugat satu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat serta Turut Tergugat dua, pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Lahat.

“Besar harapan kami Ketua Majelis Hakim dapat memberikan keputusan yang seadil adilnya. Kita tunggu saja hasil sidang nanti. Jika ada surat bukti dari mereka yang menyatakan nama kami sekeluarga selaku ahli waris tanah yang diduga kuat diserobot tercatut penjelasan bahwa nama kami selaku penerima ganti rugi lahan untuk syarat mereka dalam pembuatan Hak Guna Usaha, maka kami sudah siap memprotesnya nanti dengan bukti yang telah kami siapkan, ” tambah Dahlian lagi dengan lantang.

Terus terang, kata Dahlian, selama ini pihaknya tidak mau menerima uang ganti rugi lahan dari PT. Arta Prigel, dikarenakan tidak sesuai dengan kesepakatan. Bahkan, anehnya, lanjut Dahlian, walau tak ada kesepakatan, tanah tersebut masih terus digarap oleh PT. Arta Prigel.

Selang waktu tak lama, sidang dimulai dan dibuka oleh Ketua Majelis Hakim Agus Pancara. SH. M.Hum yang juga Ketua PN Lahat didampingi Hakim Anggota satu Dicky Syarifudin. SH. MH dan Hakim Anggota dua, Mahartha Noerdiansyah. SH di ruang Sidang Utama Cakra PN Lahat.

Saat sidang berjalan tampak hadir Pihak Tergugat PT. Arta Prigel yang diwakili Kuasa Direksi PT. Arta Prigel, H. Maringan Siregar. SH, Yulius Rafli. SH dan rekan serta Turut Tergugat 1 pihak Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Lahat yang diutus pengacara Anisa Maryani. SH dan Turut Tergugat 2 yakni pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lahat dikuasakan kepada Kepala Seksi (Kasi) Sengketa BPN Lahat, Junardi. SH.

Ketua Majelis Hakim memberikan kesempatan kepada pihak Tergugat dan Turut Tergugat menyerahkan Surat Pembuktian, namun Surat Pembuktian Turut Tergugat dua, BPN Lahat di tolak hakim karena belum memenuhi syarat. Hingga akhirnya Ketua Majelis Hakim memutuskan sidang ditunda minggu depan 4 Juni 2018 dengan agenda penambahan surat bukti para pihak.

Usai sidang, Dahlian menanggapi surat pembuktian yang diserahkan pihak PT. Arta Prigel tidak mencatut nama dirinya dan ahli waris lainnya yang terlibat dalam persidangan ini sebagai penerima dana ganti rugi.

“Jelas hal ini membuktikan bahwa kami memang selama ini tidak pernah menemui kesepakatan dengan PT. Arta Prigel tentang ganti rugi. Namun, kenapa tanah kami digarap dan masuk di lokasi HGU PT. Arta Prigel? Mudah-mudahan tuhan mendengarkan doa kami selama ini untuk meraih tanah kami kembali, ” doa Dahlian setelah usai menjalankan persidangan. (Din)

Leave a Reply