Tim CRU Alu Kuyun Usir Gajah Liar Kembali Ke Hutan

Meulaboh, Aceh, jurnalsumatra.com – Tim Consernation Response Unit (CRU) Alu Kuyun, Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat telah mengusir kawanan gajah liar hingga meninggalkan permukiman masyarakat pedalaman.
“Sudah dari kemarin (Senin) tim kami turun dan telah mengusir kawanan gajah liar ini kembali ke hutan. Hari ini (Selasa) lokasinya sudah melewati Kreung Meulaboh, untuk sementara sudah aman,” kata pimpinan CRU Alu Kuyun, Boim, di Meulaboh, Selasa.
Dua hari lalu kawanan gajah liar berjumlah tujuh ekor masuk permukiman dan merusak tanaman di kebun warga Kecamatan Pante Ceureumen, satwa berbelalai panjang itu juga sempat merusak infrastruktur pendidikan, berupa pagar SD Krueng Meulaboh.
Ia mengatakan kawanan gajah tersebut turun karena merasa terusik akibat adanya aktivitas warga di kawasan pedalaman, seiring tingginya kebutuhan untuk pembukaan lahan baru sehingga mengganggu jalur lintasan satwa gajah itu.
Boim mengatakan kawanan gajah liar tersebut juga sempat mendatangi lokasi CRU mengganggu gajah-gajah jinak, akan tetapi masih bisa ditangani dan tidak berakibat fatal, walaupun sempat mendapat serangan langsung dari pejantan.
“Ke CRU juga ada, kawanan gajah ini sempat menyerang gajah jinak tetapi tidak sampai cidera. Gajah liar di daerah kita tidak ada yang terpasang GPS, sebab masih bisa diawasi dan dipantau secara manual lokasi keberadaanya,” ujarnya.
Dia mengatakan  gajah Рgajah liar tersebut belum dapat dipastikan akan meninggalkan kawasan tersebut secara permanen, apalagi merupakan sebagian dari jalur lintasan habitat satwa di lindungi undang-undang tersebut.
Boim mengatakan  konflik satwa di wilayah Aceh Barat masih relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan wilayah Aceh Timur dan Bener Meriah, demikian halnya proses penangganan satwa tersebut di Aceh Barat hanya memakan waktu 3-5 hari sudah selesai.
Ia mengataan sebenarnya satwa liar tersebut tidak akan mengusik dan turun kepermukiman penduduk apabila habitat atau jalur lintasannya tidak terganggu oleh adanya kegiatan atau aktivitas yang memancing psikologis satwa tersebut sehingga mengamuk.
“Di daerah kita hanya tujuh ekor, yang puluhan ekor itu di Bener Meriah. Kawanannya juga tidak sama, kalau di Pante Cermen itu satu kelompok dengan kawanan di Meureubo, berbeda dengan kelompok di Bener Meriah,” kata Boim.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − eleven =