Tim Gabungan Tutup Tempat Usaha Air Pegunungan

     Kudus, jurnalsumatra.com – Tim gabungan melakukan penutupan tempat usaha penjualan air yang bersumber dari kawasan Pegunungan Muria Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang tersebar di lima desa, Rabu.
Tim gabungan yang melakukan penertiban, yakni dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Satpol PP Kudus dan Provinsi Jateng, Dishub Kudus, serta Polres Kudus.
Dalam penutupan tempat usaha penjualan air pegunungan tersebut, tim gabungan dibagi menjadi empat tim karena lokasinya tersebar di lima desa.
Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BBWS Pemali Juana Sugianto mengungkapkan bahwa penutupan itu dilakukan setelah ada surat peringatan sebelumnya kepada pemilik tempat usaha.
Ia menegaskan kegiatan bersama tim gabungan bukan untuk penyegelan, melainkan penutupan tempat usaha karena melanggar Undang-Undang Nomor 11/1974 tentang Pengairan dan Peraturan Pemerintah nomor 121/2015 tentang Pengusahaan Sumber Daya Air. Jumlah lokasi tempat usaha yang ditutup 21 lokasi.
Terkait dengan adanya tempat usaha yang ternyata dari air dalam, kata dia, bukan kewenangannya, namun penutupan dengan cara dipasang kabel tis dan pemasangan papan yang terdapat tulisan “Ditutup/Dihentikan”.
Selanjutnya, kata dia, dilakukan penandatanganan berkas acara penutupan.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kudus Djati Solechah mengungkapkan 21 lokasi tempat usaha air pegunungan, satu tempat usaha ada yang dimiliki oleh dua orang.
Jumlah terbanyak, di Kecamatan Dawe yakni di Desa Kajar, Colo, Piji, dan Dukuh Waringin. Di Desa Kajar, terdapat 11 tempat, yakni Desa Colo terdapat enam tempat serta Desa Dukuh Waringin dan Desa Piji, masing-masing satu tempat, sedangkan di Kecamatan Gebog, yakni satu tempat di Desa Rahtawu.

     Salah seorang pemilik tempat usaha air Pegunungan Muria, Supriyanto, mengakui menjual air pegunungan sejak 10 bulan yang lalu.
“Itu pun air sisa dari kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.
Setiap tangki air, kata dia, dijual Rp30.000, namun air yang bisa dijual disesuaikan dengan pasokan air yang ada dan keandalan jaringan pipa yang mengalirkan air.
Siswadi, pengusaha lainnya, mengakui tempat usaha penjualan air miliknya tidak menggunakan air permukaan, melainkan air tanah.
Di hadapan tim gabungan, dia juga menunjukkan sejumlah surat izin yang dimiliki untuk legalitas usahanya itu.
Pengusaha air Pegunungan Muria yang berizin hanya tiga pengusaha, sedangkan pengusaha lainnya sama sekali tidak memiliki izin. Tiga pengusaha yang semula memiliki izin tersebut tidak melakukan perpanjangan. Dengan demikian, semua pengusaha air pegunungan di kawasan Pegunungan Muria Kudus tidak berizin.
Eksploitasi air di kawasan Pegunungan Muria Kudus yang sudah berlangsung sejak lama itu, mendapatkan protes dari pemerhati lingkungan.
Aksi unjuk rasa berulang kali digelar untuk mendesak pemerintah segera menertibkan pemilik tempat usaha tersebut.
Informasinya, setiap hari terdapat jutaan liter air diambil dan dijual sebagai air minum isi ulang. Hal itu bisa dilihat dari jumlah truk tangki yang selama ini mengangkut air dari kawasan pegunungan untuk dijual ke sejumlah daerah yang mencapai puluhan truk dengan kapasitas angkut antara 5.000-6.000 liter.
Eksploitasi air secara berlebihan sejak 1995 itu, dikhawatirkan berdampak pada debit mata air permukaan yang makin menurun, sedangkan petani juga kesulitan mendapatkan air irigasi saat musim kemarau.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × three =