Tim Verifikasi Rekomendasikan Cabang Olahraga Potensi Emas

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Tim Verifikasi bentukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) merekomendasikan 16 dari 40 cabang olahraga yang berpeluang meraih medali emas di Asian Games 2018.
“Hasil kesimpulan setelah menyeleksi proposal program pelatnas induk organisasi olahraga yang sudah diserahkan kepada Kemenpora, antara 16 sampai 20 cabang olahraga berpeluang medali emas. Selebihnya, meraih medali perak dan perunggu,” kata Ketua Tim Verifikasi Adhi Purnomo di Jakarta, Selasa.
Adapun yang berpeluang meraih medali emas tersebut, kata Adhi, adalah cabor dengan nomor yang dipertandingkan diikuti kategori atlet elit international dan regional seperti bulu tangkis yang menurutnya dua nomor berpeluang medali emas.
“Selain itu ada juga boling satu emas, jetski dua emas, panahan satu emas, wushu satu emas, karate satu emas,”  ujarnya.
Adhi juga mennyebutkan, cabor prioritas emas yang diusulkan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tidak semua menjadi prioritas emas, seperti sepak takraw serta berkuda yang nomornya tidak memiliki elit internasional.
“Sepak Takraw tidak ada yang berpeluang emas, termasuk berkuda juga enggak. Untuk Rancangan Anggaran Biaya (RAB) sesuai dengan kategori nasional yakni berpeluang medali. Tapi kalau misalnya mereka yang tidak dikategorikan mendapatkan emas namun di Asian Games dapat emas akan mendapatkan pengganti biayanya,” tuturnya.

    Adhi menjelaskan sudah ada delapan cabor menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pencairan dana pelatnas.
Diantaranya adalah, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Jujitsu, Persatuan Basket Seluruh Indonesia (PERBASI), Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (PERSEROSI) dan Ikatan Sepeda Seluruh Indonesia (ISSI).
Dia menjelaskan, MoU dilakukan agar pencairan pelatnas baik akomodasi hingga honoraium atlet secepatnya dicairkan yang nantinya akomodasi akan sama rata Rp500 ribu setiap bulan hingga Desember 2018 dan honorarium sesuai Standar Biaya Masukan Lainnya (SBML) sekitar Rp8 juta.
“Yang membedakan itu adalah gaji atlet elit internasional yakni mereka dapat Rp15 juta setiap bulan dan regional Rp10 juta setiap bulan hingga akhir Desember 2018,” tuturnya.
Kendati demikian, Adhi menjelaskan ada beberapa cabang yang tidak cocok dengan pemtongan kuota atlet yang diajukan. Salah satunya adalah cabang olahraga bridge yang dipotong menjadi 12 atlet dari 32 atlet.
“Mereka (bridge) mengajukan ingin lebih try out dan training camp untuk atlet diluar non unggulan. Seharusnya kan yang berpotensi emas saja,” tuturnya.
Atas hal tersebut, tambah dia, bridge mengancam tidak bermain sesuai target Asian Games. Namun dia menegaskan, perihal ini akan dibahas kembali dengan jajaran Deputi IV Kemenpora.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − ten =