Tokoh Masyarakat Lebak Ajak Pilkada Damai

     Lebak, jurnalsumatra.com – Tokoh masyarakat Kabupaten Lebak KH Akhmad Rifa’i mengajak pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak dengan daerah lain pada 27 Juni 2018 berlangsung damai dan tertib.
“Kita jangan sampai pilkada itu menimbulkan konflik di kalangan masyarakat sehingga dapat merugikan semua pihak,” kata pengelola Pondok Pesantren Wasilatul Falah di Lebak, Kamis.
Masyarakat Kabupaten Lebak memiliki kewajiban untuk menjaga keamanan, kerukunan, keharmonisan juga memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Wathoniyah.
Selain itu juga semangat persatuan dan kesatuan bangsa.
Selama ini, wilayah Kabupaten Lebak sudah aman, damai dan konsudif jangan sampai dinodai adanya pilkada menimbulkan konflik.
Sebab, perbuatan konflik dan permusuhan itu bukan perilaku Islam, apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan yang bisa merugikan masyarakat.
“Pesta demokrasi anggap saja dijadikan tempat rekreasi atau hiburan,” katanya.
Disamping itu juga, pilkada dapat memperkuat persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan kedamaian, kerukunan dan keharmonisan.
“Kita berharap masyarakat berpartisipasi menggunakan hak suaranya untuk menentukan calon kepala daerah itu,” katanya.
Ia mengatakan, masyarakat yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) agar tidak menjadi golongan putih atau tak gunakan hak pilih pada pilkada dan hendaknya menggunakan hak pilihnya.

     Masyarakat berbondong-bondong seharusnya mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk berpartisipasi menetukan pilihan calon bupati dan wakil bupati.
Apabila, masyarakat tidak menggunakan hak suara tentu merugi karena tidak memberikan pilihan kepala daerah.
“Saya kira pilkada adalah sebuah proses pemilihan pemimpin secara demokrasi dan tidak boleh menimbulkan gangguan keamanan maupun gejolak di masyarakat, sebab, pesta demokrasi itu untuk mencari figur pemimpin yang lebih baik untuk membangun kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Akhmad mengimbau pesta demokrasi itu juga jangan sampai dikotori dengan adanya kecurangan maupun ketidakjujuran dengan melakukan praktik politik uang, propoganda untuk mengarahkan ajakan kepada salah satu pasangan kepala daerah.
Meski pilkada di Lebak hanya diikuti pasangan tunggal dengan kotak kosong.
Masyarakat harus menciptakan pilkada damai dan menjaga kerukunan serta persatuan dan kesatuan bangsa.
Selain itu juga pilkada jangan sampai terjadi politik uang, kampanye hitam, menebar isu bernuansa suku rasa agama dan antargolongan (SARA).
Sebab, perbuatan itu tidak demokrasi juga melakukan pelanggaran dan kecurangan sehingga masyarakat harus menolak secara bersama.

     Begitu juga Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI dan Polri harus bersikap netral dan tidak memihak kepada salah satu calon kepala daerah.
“Kita mendukung pilkada damai,tertib dan aman,” katanya.
Target partisipasi
Cedin Rosyad Nurdin, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lebak mengatakan pihaknya menargetkan partisipasi hak pilih pada pilkada mencapai 80 persen.
Diperkirakan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) pada pilkada tidak jauh dengan Pilpres 2014 yakni sekitar 914.375 jiwa.
Dari 914.375 jiwa yang masuk DPT memberikan hak pilihnya di 1.897 tempat pemungutan suara (TPS) di 345 desa/kelurahan yang ada di 28 kecamatan.
Untuk mendongkrak partisipasi hak suara pilkada, pihaknya terus mengoptimalkan kegiatan sosialisasi agar target 80 persen bisa tercapai.
Kegiatan sasaran sosialisasi itu antara lain masyarakat, institusi pendidikan, lembaga keagamaan, instansi pemerintah dan berbagai pekerja profesi.
“Kami optimistis partisipasi pemilih pilkada Lebak cukup tinggi karena tingkat kesadaran masyarakat berpolitik sudah bagus,” katanya.(anjas)

Leave a Reply