UAD Edukasi Mahasiswa Agar Mencintai Budaya Sendiri

Bantul, jurnalsumatra.com –  Dalam rangka memperingati milad ke-58, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon “Amarta Binangun” dan sebagai dalang Ki Seno Nugroho, Sabtu (5/1/2019) malam di Kampus 4 UAD Jl Ring Road Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul.

Pelajaran yang bisa diambil dari lakon itu, untuk meraih sesuatu kebahagiaan harus berjuang. Dan seperti yang selalu diajarkan di UAD, Rektor UAD Dr H Kasiyarno, M.Hum, selalu minta kepada dosen dan karyawan untuk kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, mumtas atau kualitas, sinergitas dan membangun trust (kepercayaan).

Selain dihadiri mahasiswa, dosen dan karyawan UAD Yogyakarta, pagelaran wayang semalam suntuk juga dihadiri seluruh Wakil Rektor UAD, Bupati Gunung Kidul Dr Immawan Wahyudhi, MH, Ketua BPH UAD Prof Dr H Yunahar Ilyas, Lc, M.Ag beserta Dr H Untung Cahyono, masyarakat sekitar kampus.

Diharapkan, wayang kulit itu juga sebagai sarana edukasi bagi mahasiswa agar mereka mencintai budayanya sendiri.

Pada kesempan itu, Ki Seno Nugroho didampingi Elisha Orcarus Allasso, sinden yang juga seorang dalang lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan pedalangan, yang juga lulusan S2 Magister Psikologi Sains.

Sudah lama Elisha Orcarus Allasso mengenal Ki Seno Nugroho, yang secara rinci diperoleh dengan cara menelisik motivasinya dalam memenuhi tingkat kebutuhan sampai pada tahap aktualisasi diri sebagai seorang dalang.

Menurut Elisha Orcarus Allasso, ada beberapa hal yang dapat dikemukakan dari bergabungnya dengan Ki Seno Nugroho. “Pencapaian kebutuhan aktualisasi diri diawali dengan mengetahui bakat dan potensi yang dimiliki. Selain itu, kesadaran mengenai bakat yang dimilikinya melahirkan impian sebagai kebutuhan tertinggi dan untuk mencapainya harus melalui proses panjang,” terang Elisha Orcarus Allasso.

Bagi Elisha, Seno Nugroho telah berhasil mengaktualisasikan diri dan mewujudkan impiannya melalui bakat. Setelah ia berhasil mewujudkan impiannya di masa muda, yaitu menjadi dalang yang diinginkan di masyarakat, impian selanjutnya adalah mempertahankan penggemar dan mempersiapkan generasi berikutnya agar terus melestarikan budaya Jawa, terutama pertunjukan wayang.

Seperti disampaikan Rektor UAD, Dr H Kasiyarno, M.Hum, sebagai lembaga pendidikan, UAD Yogyakarta sejak tahun 2007 berkomitmen ikut menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur.

“Sebagai wujud keseriusan melestarikan budaya itu, dalam setiap miladnya kami menggelar pentas wayang kulit,” kata Kasiyarno.

Bagi Kasiyarno, pertunjukan wayang kulit itu untuk melestarikan apa yang telah diajarkan KHA Dahlan. “Dan kami akan selalu tetap dalam jalur keberkebudayaan,” tandas Kasiyarno.

Dikatakan Kasiyarno, dulu KHA Dahkan adalah pemain biola yang hebat. “Hal ini juga menunjukkan kalau KHA Dahlan adalah pecinta seni dan cinta budaya,” kata Kasiyarno, yang menambahkan tradisi di UAD selalu diawali dengan tari-tarian setiap ada event, apapun itu.

Wayang kulit, bagi Kasiyarno, juga sebagai media dakwah. “Untuk itu jangan sampai dicuri atau diambil orang sebagai sarana untuk mendakwahkan agama lain,” terang Kasiyarno, yang menambahkan wayang kulit dulu juga dipakai sebagai sarana dakwah oleh Sunan Kalijaga.

Sementara itu, ditambahkan koordinator acara wayang kulit, Unggul Haryanto Nur Utomo, tujuan diadakannya pertunjukan wayang kulit itu sebagai bentuk pengabdian UAD Yogyakarta bagi masyarakat Yogyakarta. “Dengan memberikan tontonan dan sekaligus tuntunan,” kata Unggul Haryanto N.U. (Affan)

Leave a Reply