UAD Kirim Mahasiswa Ke Luar Negeri


Yogyakarta, jurnalsumatra.com –  Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta yang dikirim ke luar negeri yang semakin meningkat sangat bagus sekali dan perlu disyukuri.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor IV UAD Prof Drs Sarbiran, M.Ed, Ph.D, ketika melepas 23 mahasiswa yang mengikuti credit transfer system dan 5 mahasiswa yang magang di sekolah-sekolah di Thailand dan Filipina di ruang rapat Kampus 1 UAD Jl Kapas Yogyakarta, Sabtu (27/7/2019).

Di depan Kaprodi di lingkungan UAD Yogyakarta Sarbiran berharap, meski berada di luar negeri jangan sampai menanggapi terlalu jauh ketika ada orang yang mempermasalahkan jilbab.

“Selain itu jangan sampai lupa melaksanakan ibadah shalat dalam kondisi apapun juga dan selalu berdoa agar selalu mendapat bimbingan Allah SWT ketika melakukan yang terbaik,” kata Sarbiran.

Menurut Sarbiran, ketika berada di luar negeri harus memiliki kedewasaan dalam berpikir, berperilaku dan bertindak. “Ini sangat perlu sekali dan jangan ada perasaan takut untuk bertanya ketika berada di sana,” papar Sarbiran.

Pada kesempatan itu, Sarbiran menyarankan kepada mahasiswa yang ke luar negeri untuk selalu berkomunikasi dengan bahasa Inggris agar lebih bagus. “Agar percaya diri, maka jagalah nama baik pribadi, kampus dan Muhammadiyah,” tandas Sarbiran.

Hingga saat ini, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta terus menambah kuota mahasiswa yang akan dikirim ke luar negeri.

Hal itu dilakukan karena jumlah mahasiswa UAD Yogyakarta yang semakin bertambah. “Dan tingkat kepercayaan institusi luar negeri kepada UAD Yogyakarta saat ini terus meningkat,” papar Ida Puspita, MA.Res, Kepala Urusan Internasional (KUI) UAD Yogyakarta.

Menurut Ida Puspita, pengiriman mahasiswa ke luar negeri yang semakin lama semakin meningkat adalah wujud komitmen internasionalisasi yang dilakukan UAD Yogyakarta.

“Hal ini juga merupakan wujud kepercayaan dari pemerintah lewat Kemenristekdikti, yang setiap tahunnya kementerian memberikan kuota untuk UAD Yogyakarta dan institusi mitra UAD di luar negeri,” kata Ida Puspita.

Kali ini, UAD Yogyakarta mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti program AIMS (Asian International Mobility for Students), credit transfer system dan magang ke sekolah-sekolah di negara-negara Asean.

Untuk FKIP UAD Yogyakarta mengirimkan 5 orang mahasiswa dalam program SEA-Teacher untuk magang di sekolah-sekolah di Thailand dan Filipina.

FSBK Prodi Sastra Inggris mengirimkan mahasiswa paling banyak, yaitu 11 orang mahasiswa untuk dua program yang berbeda: AIMS dan credit transfer system dengan beasiswa dari Kemenristekdikti.

Sementara itu FTI mengirimkan 6 orang mahasiswa ke University Malaysia Pahang, berasal dari Prodi Teknik Kimia, Teknik Industri dan Teknik Informatika. Tahun 2019 ini untuk pertama kalinya FTI mengirimkan mahasiswanya dalam program AIMS. 

Sedangkan FAI mengirim 6 orang mahasiswa dalam program AIMS, mereka berasal dari Prodi Bahasa dan Sastra Arab. Untuk FAI mulai mengirimkan mahasiswanya sejak 2013. 

Adapun untuk FSBK sudah mengirimkan mahasiswanya dalam program AIMS dan credit transfer system sejak tahun 2010. 

Mahasiswa FSBK yang dikirim itu dari Prodi Sastra Inggris dalam program credit transfer system ke Universiti Teknologi MARA. Sedangkan mahasiswa FSBK Prodi Sastra Inggris yang dikirim dalam program AIMS ke Thammasat University Thailand, Universiti Brunei Darussalam dan Universiti Teknologi MARA Malaysia.

Sedangkan FKIP secara rutin mengirimkan mahasiswa dalam program SEA-Teacher sejak batch 6 tahun 2018. SEA-Teacher merupakan program dari SEAMEO, yang anggotanya adalah konsorsium Kementerian Pendidikan seluruh Asia Tenggara.

Mahasiswa FKIP yang akan dikirim dalam program SEA-Teacher berasal dari beberapa program studi yang berbeda: Pendidikan Bahasa Inggris ke Benguet State University Filipina dan University Thailand, Pendidikan Fisika ke Benguet State University Filipina, PGSD ke University of San Carlos Filipina, PGAUD ke Benguet State University Filipina. 

Dari 4 ribu Perguruan Tinggi di Indonesia, seperti dijelaskan Ida Puspita, MA.Res, hanya ada 12 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Indonesia masuk dalam AIMS: UGM, ITB, IPB, Unsri, UNS, Universitas Bina Nusantara (Binus), UAD, ISI Denpasar, ISI Surakarta, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Kristen Maranatha. Untuk tahun 2019 ini ada penambahan Unpad dan ITS.

Dikatakan Ida Puspita, performance UAD Yogyakarta saat ini sangat baik karena menyerap beasiswa. (Affan)