UAD Menyelangarakan Seminar Nasional Moderasi Islam

Yogyakarta – jurnalsumatra.com – Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam seperti tersebut dalam surah al-Anbiya ayat 107. Dan rahmah adalah riqqatun taqtadlil ihsana ilal marhumi, perasaan halus atau cinta yang mendorong untuk memberi kebaikan nyata kepada yang dikasihi.

Hal itu disampaikan Dr Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam seminar Nasional “Moderasi Islam, Perdamaian dan Perempuan dalam Perspektif Agama, Hukum, Politik dan Sosial” yang diselenggarakan Staf Khusus Presiden RI Bidang Keagamaan Internasional dan Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan  (UAD) Yogyakarta di JW Marriot Hotel Yogyakarta, Jum’at (7/12/2018).

Pembicara lainnya adalah Prof Dr Syamsul Arifin (Wakil Rektor I Unmuh Malang), Dr Norma Sari, SH, M.Hum (Wakil Dekan FH UAD), dan Dr Nur Azizah, MSi (Fisipol UMY) dengan pemandu Dr Edi As’adi, SH, M.Hum (FH UAD). Dan, para pembicara, memaparkan kondisi keberagamaan di Indonesia saat ini.

Menurut Hamim Ilyas, Islam memberikan kebaikan nyata dengan mewujudkan hidup sejahtera, damai dan bahagia bagi seluruh alam. “Tidak hanya bagi manusia saja, apalagi kepada umat muslim semata,” papar Hamim Ilyas.

Pada kesempatan itu, Hamim Ilyas juga menguraikan masalah yang sejak lama telah menjadi perbincangan publik dengan pengembangan teologi agama-agama dalam al-Qur’an, yang melampai tafsir yang dominan ada melalui uraian tentang konsep ketuhanan, keselamatan, keterbukaan dan makna ritual pokok yang terdapat dalam kitab.

Hamim Ilyas menguraikan pula tentang keselamatan dan kesalehan, yang membuktikan adanya keterbukaan Islam terhadap pengalaman agama atau spiritualitas nonmuslim.

“Selama ini, keterbukaan dipahami terbatas pada ahli kitab dan pemahaman ini mestinya berubah, seiring dengan perubahan zaman,” kata Hamim Ilyas.

Dalam paparannya mengenai memajukan budaya hukum dalam disrupsi moderasi kehidupan beragama, Dr Norma Sari uraikan moderasi kehidupan beragama warisan pendiri negara, sistem hukum: substansi hukum, budaya hukum dan struktur hukum.

Bagi Norma Sari, hak memeluk agama dan beribadah menurut agamanya adalah hak asasi. “Termasuk di dalamnya adalah hak atas kebebasan meyakini kepercayaan,” kata Norma Sari.

Di depan peserta seminar, Norma Sari uraikan pula soal pencegahan penyalahgunaan dan penodaan agama, hak asasi manusia (HAM), hak-hak sipil dan politik, pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum umat beragama dan pendirian rumah ibadah.

Selain itu, Norma Sari paparkan pemerintah dan institusi penegak hukum, paternalisme negara dalam kehidupan beragama, jenis-jenis paternalisme, pemajuan budaya hukum, toleransi dalam kerangka ketertiban umum.

Norma Sari sampaikan pula aktor kunci pemajuan budaya, hukum dalam moderasi beragama: pemerintah, tokoh agama, masyarakat. Juga terangkan peran perempuan, disrupsi moderasi kehidupan beragama, tantangan pemajuan budaya hukum dalam era disrupsi.

“Masyarakat sudah berubah, terdisrupsi dari masyarakat berinteraksi secara riil, sekarang berinteraksi secara maya,” kata Norma Sari, yang menyinggung pula rendahnya literasi media, privatisasi ruang publik dan publikasi ruang privat serta mudahnya terpapar hoax melalui sosial media.

Tokoh perempuan Indonesia, yang juga Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr Hj Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA, yang diangkat Presiden RI, Joko Widodo, sebagai staf khusus presiden bidang keagamaan internasional, mengatakan, Islam Indonesia harus tampil ke dunia agar menjadi representasi Islam yang damai di dunia dan melawan gerakan politik Islam transnasional yang menampik keberagaman.

“Islam berkemajuan adalah identitas Islam di Indonesia yang berasal dari dua organisasi Islam besar yang sudah mengakar di masyarakat, yaitu NU dan Muhammadiyah,” kata Siti Ruhaini Dzuhayatin, yang menjadi staf khusus presiden bersama tiga orang lainnya: Adita Irawati (bidang komunikasi kementerian dan lembaga), Gus Rozin (bidang keagamaan dalam negeri), dan Ahmad Erani Yustika (bidang kebijakan sektor ekonomi), d idampingi Prof Dr Sudarnoto Hakim (penasihat).

Siti Ruhaini, yang merupakan tokoh Islam sekaligus aktivis hak asasi manusia yang sudah malang-melintang di dalam maupun luar negeri, tugasnya membantu Presiden Jokowi merespons isu keagamaan tingkat internasional.

Menurut Siti Ruhaini, Islam berkembang di Indonesia ditakdirkan menjadi negeri yang beragam dan multikultural. “Islam di Indonesia sebenarnya memiliki nilai wasatiyah atau moderat seperti dikembangkan NU dan Muhammadiyah,” papar Siti Ruhaini, yang menambahkan konsep ini sebenarnya mampu menjawab tantangan dunia dan kondisi Islam saat ini.

Berkaitan kegiatan itu, menurut Siti Ruhaini, hasil diskusi dibawa ke Jakarta untuk menjelaskan pandangan Muhammadiyah tentang moderasi beragama. “Juga soal perdamaian yang saat ini sangat mahal, yang mayoritas penduduk beragama Islam,” kata Siti Ruhaini.

Sementara itu, Wakil Rektor II UAD, Dr Muchlas MT, di depan KRT Drs H Ahmad Muhsin Kamaludingrat (MUI DIY), H Parwoto, SIP, MM (PWM DIY) dan Zulaikhah (PWA DIY), mengatakan, kita semua sudah ditakdirkan berbeda-beda dari komposisi agama dan suku bangsa.

“Melalui kegiatan ini bisa memberikan satu gambaran Muhammadiyah soal moderasi,” kata Muchlas MT, yang menguraikan sikap Muhammadiyah terhadap kebangsaan serta peran moderasi dalam Muhammadiyah.

Pada kesempatan itu, Muchlas MT menyaksikan penandatangan kerjasama atau MoU berkaitan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi antara Staf Khusus Presiden RI Bidang Keagamaan Internasional dan Fakultas Hukum UAD Yogyakarta dan . (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − sixteen =