UAD Sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat


Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai terbiasa dengan penggunaan berbagai jenis obat-obatan dengan tujuan untuk menyembuhkan penyakit, mengontrol ataupun sebagai suplemen dalam menunjang aktifitas sehari-hari. 

“Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti perkembangan penyakit, produksi berbagai jenis obat-obatan dan suplemen serta mulai diberlakukannya jaminan kesehatan nasional yang memungkinkan masyarakat mendapatkan akses yang lebih mudah untuk mendapatkan pengobatan,” terang Mexsi Mutia Rissa, S.Farm, Apt, mahasiswi Pascasarjana Farmasi Klinis Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Kamis (28/3/2019).

Perkembangan itu, menurut Mexsi Mutia Rissa, menimbulkan berbagai dampak positif maupun negatif. 

“Dampak positif yang dapat terlihat adalah semakin banyaknya masyarakat yang mulai peduli terhadap kesehatan dengan memeriksakan diri ke tempat-tempat pelayanan kesehatan. Sedangkan dampak negatif yang mungkin timbul dengan meningkatnya penggunaan obat di masyarakat adalah kesalahan dalam menggunakan hingga membuang limbah obat,” terang Mexsi Mutia Rissa.

Dikatakan Mexsi, hal itu dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dan informasi yang disampaikan kepada masyarakat terkait penggunaan obat yang baik dan benar. “Kesalahan dalam penggunaan obat dapat menyebabkan kerugian, baik bagi masyarakat maupun bagi lingkungan,” tandas Mexsi.

Strategi pelaksanaan gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat (Gema Cermat), salah satunya adalah edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

Adapun di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta saat ini ada program yang sejalan, yaitu Program Pemberdayaan Umat (Prodamat).

Berkaitan hal itu, mahasiswa dan mahasiswi Pascasarjana Farmasi Klinis UAD Yogyakarta menjalankan agenda Prodamat berupa sosialisasi program gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat dengan tema Dagusibu, penggunaan antibiotik bijak dan TOSS TB (temukan obat sampai sembuh Tuberkulosis).

Kegiatan itu untuk memperingati Hari TBC Sedunia yang digelar bersama ibu-ibu Akseptor Satuhu Lestari (Apsari) RT 33 RW 08 Umbulharjo, Yogyakarta, pada hari Minggu, 24 Maret 2019 pukul 16.00 WIB.

Dari kegiatan itu diharapkan ibu-ibu bisa memahami tentang definisi umum dan klasifikasi obat, memahami tentang berbagai macam sediaan obat dan cara konsumsi atau penggunaannya, dapat memahami tentang ciri-ciri obat-obatan yang masih layak digunakan setelah disimpan dan ciri-ciri obat yang sudah tidak layak untuk digunakan.

Selain itu, ibu-ibu juga memahami tata cara penyimpanan dan pembuangan obat yang  rusak atau kadaluwarsa.

Adapun kegiatan penyuluhan kepada masyarakat itu terkait penggunaan obat yang baik dan benar. Kegiatan penyuluhan ini diberi nama Dagusibu (Dapatkan-Gunakan-Simpan-Buang). 

Kegiatan ini dilakukan karena banyaknya kegiatan swamedikasi yang dilakukan oleh masyarakat saat ini. 

“Apoteker sebagai profesi kesehatan yang concern  terhadap pemakaian obat-obatan di masyarakat diimbau untuk terus melakukan penyuluhan Dagusibu di manapun agar masyarakat paham mengenai penggunaan obat yang benar,” terang Mexsi.

Sehingga tujuan pengobatan dapat tercapai serta tidak menimbulkan kerusakan lingkungan karena pembuangan limbah obat yang salah.

Menurut Mexsi Mutia Rissa, Dagusibu (dapatkan, gunakan, simpan, buang) merupakan slogan serta istilah komunikatif yang diperkenalkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) melalui suatu Gerakan Keluarga Sadar Obat (GKSO) dengan tujuan memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan cara yang benar serta meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap obat.

Sebagai pembimbing kegiatan adalah Dr.rer.nat. Endang Dermawan, S.Si, M.Si, Apt (Ketua Prodi Profesi Apoteker UAD). Sedang sebagai pemateri adalah Mexsi Mutia Rissa, S.Farm, Apt (Master AoC Rokan Hulu, Riau) dengan moderator Chilyati Eky Futihat, S.Farm, Apt.

Adapun sebagai konseling antara lain: Ika Pitraresna C., S.Farm, Apt, Arya Dibyo Adi Saputra, S. Farm, Apt dan Ratna Septi Tristiana, S.Farm, Apt.

“Mari cerdas gunakan obat, bijak dalam menggunakan antibiotik dan bersatu menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis,” kata Mexsi Mutia Rissa, S.Farm, Apt selaku Apoteker Master Agent of Change (Master AoC). (Affan)