UAD Wujudkan Generasi Intelektual Berkemajuan

Bantul, jurnalsumatra.com – Suasana di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang berada di Jalan Ring Road Selatan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Sabtu (7/9/2019) pagi sampai siang sangat meriah dengan hadirnya Satlantas Polres Bantul untuk sosialiasi tertib berlalulintas karena angka kecelakaan lalu lintas masih sangat tinggi.

Selain itu, sebanyak 6.750 orang mahasiswa baru yang memakai caping untuk memerdekakan Indonesia dengan bertani — di antaranya 71 orang mahasiswa asing — ikuti penutupan kegiatan Program Pengenalan Kampus (P2K) setelah ikuti kegiatan P2K UAD Yogyakarta pada 3 – 5 September 2019 dengan konsep berbeda dengan tahun sebelumnya: meniadakan P2K tahap kedua agar adanya keadilan bagi semua.

Kali ini, pembukaan dan penutupan kegiatan bertemakan “mewujudkan generasi intelektual berkemajuan dengan ilmu amaliah dan amal ilmiah” diadakan di Kampus 4 UAD Yogyakarta Jl Ringroad Selatan Kragilan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, yang juga dihadiri 477 orang mahasiswa Pascasarjana dan Profesi.

Sejak 2014, UAD Yogyakarta sambut mahasiswa baru lewat P2K. Mencoba mengenalkan semua lini dan elemen yang ada di UAD Yogyakarta.

“Unit-unit yang mahasiswa ketahui sangat penting dalam rangka proses pendidikan. Untuk itu manfaatkan berbagai fasilitas yang ada di kampus,” kata Kasiyarno, yang menutup dengan resmi P2K UAD tahun 2019.

Ke depan, seperti disampaikan Rektor UAD Dr H Kasiyarno, M.Hum, UAD Yogyakarta akan menggali insan-insan Dahlan Muda yang lebih berprestasi, mumpuni dan jadi penggerak. “Agar UAD jadi tempat yang menginspirasi bagi mahasiswa baru,” kata Kasiyarno di depan 56 orang panitia pusat dan 2 ribu panitia yang berkolaborasi dengan dosen panitia.

Bagi Kasiyarno, UAD diharapkan mempunyai daya saing tinggi dari segi akademik dan non-akademik agar mahasiswa memiliki soft skills yang tinggi.

Disampaikan Kasiyarno di depan Dahlan Muda, untuk membangun UAD yang kuat mahasiswa harus belajar yang tekun dan keras. “Sehingga Indonesia akan menjadi kuat,” terang Kasiyarno.

Kasiyarno mengatakan, mahasiswa perlu membekali diri dengan ilmu dan agama. “Ilmu tanpa agama tentu berdampak tidak baik,” tandas Kasiyarno, yang juga perkenalkan museum Muhamadiyah, amphitarium, planetarium dan observatorium di lingkungan kampus 4 UAD.

Pada kesempatan itu, Rektor UAD Yogyakarta Dr H Kasiyarno, M.Hum menyerahkan kenang-kenangan kepada Kasatlantas Polres Bantul AKP Cerryn Nova Madang Putri, SH, MM  Selain itu juga berikan voucher dari BPD DIY Syariah kepada 22 orang mahasiswa dari 11 fakultas setelah bisa menjawab pertanyaan: apa kepanjangan BPD dan nama aplikasi android dari BPD DIY Syariah?

“Berbagai bank sudah kerjasama untuk mempermudah transaksi mahasiswa, termasuk pembayaran SPP,” kata Kasiyarno, yang menambahkan termasuk kerjasama dengan BPD DIY dengan smartphone tanpa antre.

Selain itu, Kasiyarno juga ucapkan selamat ulang tahun ke-71 kepada Polwan. “Ke depan agar bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan mengayomi seluruh masyarakat,” papar Kasiyarno.

Sementara itu, Dekan FKIP UAD Yogyakarta, Dr Trikinasih Handayani, mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung kepada mahasiswa baru UAD Yogyakarta untuk beraktivitas dan berprestasi.

Penutupan P2K UAD Yogyakarta diakhiri dengan doa bersama dipimpin Drs Anhar Anshori, MSi, PhD, dosen Prodi Ilmu Hadits dan Kepala Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD Yogyakarta serta penayangan video rangkuman kegiatan P2K dan pentas kolaborasi seni UAD dari mahasiswa baru di 11 fakultas di panggung dengan latar belakang burung Garuda yang sangat besar.

Pada kesempatan itu, Ketua Masa Ta’aruf Organisasi Ortonom (Masta) UAD 2019 Anandito Wicaksono (FEB) serahkan donasi sebesar Rp 33.805.200,- kepada Lazismu DIY untuk membantu warga Gunung Kidul yang mengalami musibah kekeringan.

“UAD Yogyakarta selalu jaya, UAD kuat Indonesia hebat,” teriak mahasiswa baru menutup kegiatan P2K UAD Yogyakarta.

Selanjutnya, Dahlan Muda diharapkan bisa menjadi generasi cendekiawan pembawa perubahan. Sehingga mahasiswa sudah layaknya membaca adalah budaya, prestasi adalah tradisi dan ketidakadilan adalah lawan. (Affan)