UAD Yogyakarta Bangga Punya Mahasiswa yang Bisa Mendalang

YOGYAKARTA, jurnalsumatra.com – Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Dr H Kasiyarno, MHum, merasa sangat bangga karena anak didiknya Ki Anom Teguh Purwocarito, mahasiswa semester IV Prodi PAI FAI bisa mendalang. “Dia satu-satunya dalang yang dimiliki UAD Yogyakarta,” tandas Kasiyarno.

Oleh karena itu, dalang muda berbakat itu dikenalkan kepada 24 ribu mahasiswa UAD dan masyarakat sekitar Kampus 4 UAD di Tamanan, Banguntapan, Bantul, dalam pementasan wayang kulit menyemarakkan Milad ke-57 UAD, Sabtu malam (10/2/2018), dengan lakon “Semar Mbangun Kahyangan”.

Selain itu, untuk menunjukkan kalau Muhammadiyah tidak antibudaya. “Selama ini, Muhammadiyah sering dikatakan sebagai organisasi Islam yang antibudaya. Ini tidaklah benar karena di lingkungan Muhammadiyah budaya justru dilestarikan,” kata Kasiyarno yang menambahkan hal itu untuk alat berdakwah juga.

Oleh karena lingkungan keluarga dan masyarakat di Suruh, Karanglo, Polanharjo, Klaten, Jateng, senang wayang, Teguh Santoso Edi Suyatno yang akrab disapa Ki Anom Teguh Purwocarito (21), kini sebagai dalang muda berkharisma.

Lulus dari SMK Muhammadiyah 1 Lendah, Kulonprogo (2016), Ki Anom merantau memperdalam agama di Ponpes Al-Ma’uun Tegal Layang, Caturharjo, Pandak, Bantul. Kini, sebagai pengurus dan pengajar di Ponpes Al-Ma’uun.

Mahasiswa Fakultas Agama Islam Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) UAD Yogyakarta ini, sudah bisa mendalang sejak kelas 5 SD setelah diperkenalkan kakeknya. “Saya bercita-cita menyebarkan agama Islam melalui wayang dan gamelan,” papar Ki Anom Teguh Purwocarito.

Ada pengalaman yang tak terlupakan. Waktu mendalang di dusun Mangiran (2014) ia pakai gaya Solo dan diprotes, lalu ia pakai gaya Yogyakarta.

Dalang otodidak yang idolakan Ki Hadisugito (Toyan) dan Ki Suparman (ayahnya Seno Nugroho) sudah sering mendalang di Klaten, Cilacap, Semarang dan kota lain.

Ia ingin melestarikan budaya Jawa agar jangan sampai dicuri orang luar negeri. “Makanya saya belajar dan akan meneruskan kesenian agar tidak punah,” tandasnya.

Menurut Ki Anom Teguh Purwocarito, kisah “Semar Mbangun Kahyangan” adalah sebuah bentuk edukasi moral. “Sebenarnya, merupakan sindiran bagi para penguasa. Begitulah pujangga pada zaman dulu,” terang Ki Anom Teguh Purwocarito.

Waktu itu, tidak berani mengkritisi para penguasa secara terang-terangan. Namun secara terselubung membuat suatu lakon cerita yang sebenarnya sangat tepat jika disebut sebagai nasihat.

“Rakyat jelata adalah sentral dari lakon Semar Mbangun Kahyangan,” papar Ki Anom, yang menambahkan Petruk diutus Semar untuk meminjam ketiga pusaka jerajaan.

Namun ketika di Sitihinggil Kraton Amarta bertemu dengan Sri Krisna. Setelah mengutarakan maksudnya, Petruk malah dicaci-maki oleh Sri Krisna. Dianggap tidak tahu diri karena hanya dari kalangan rakyat jelata berani meminjam pusaka andalan kerajaan.

Akhirnya, Petruk dihajar sampai babak belur dan diusir. Sadewa melihat keadaan seperti itu sangat trenyuh hatinya. Ia pergi meninggalkan kedaton, mengikuti Petruk untuk menjumpai Semar.

Para kadang Pandawa hanya mengiyakan pendapat Sri Krisna. Semar bukannya malah marah mengetahui kejadiannya seperti itu, ia justru menangis tersedu.

Melihat pada penguasa yang tidak punya pendirian. Tangisan Semar rupanya didengar oleh ketiga pusaka yang ia kehendaki dalam mendampingi tapanya. Ketiga pusaka itu datang menghampiri Semar ke Karangkabuyutan, di mana Semar tinggal. Mengetahui ketiga pusaka andalan itu murka, para kadang Pandawa kebingungan. Sri Krisna lantas menghadap Bathara Guru. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × one =