UAD Yogyakarta Photovoice Aku dan Malioboro

YOGYAKARTA, jurnalsumatra.com – Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta bekerjasama dengan University of South Africa mengadakan penelitian “voicing and empoweing the vurnerable group trough indegenious community psuchology”, yang diawali workshop photovoice pada 9-11 Juli 2018.

Penelitian yang didanai LPPM UAD Yogyakarta ini sebagai wujud kerjasama UAD dengan University of South Africa. Dan peneliti yang terlibat adalah Prof Mohammed Seedat dari University of South Africa, Dr AM Diponegoro, Elli Nurhayati, Ph.D dan Dessy Pranungsari, M.Psi, ketiganya dari UAD Yogyakarta.

Dalam penelitian itu mengambil subjek 8 anak jalanan perempuan di Yogyakarta. Dan dalam penelitian ini juga mengikutsertakan subjek penelitian sebagai bagian dari tim peneliti untuk menentukan tema foto dan persiapan pergelaran karya photovoice.

Mewakili peneliti, Elly Nurhayati, menjelaskan, Fakultas Psikologi UAD Yogyakarta bisa mengadakan pameran berbagai sisi kehidupan anak jalanan dalam menyambung hidup. “Semoga hal itu bisa menjadi perhatian kita semua agar mereka bisa hidup layak,” kata Elly Nurhayati.

Sedangkan Dekan Fakultas Psikologi UAD, Faridah Ainur Rohmah, mengatakan, kegiatan ini adalah kali kedua diadakan. “Pertama kali diadakan bulan April lalu,” terang Faridah AR, yang menerangkan hal itu untuk memberdayakan masyarakat dan komunitas.

Sebagai rangkaian workshop, digelar karya photovoice (suara foto) bertemakan “Aku dan Malioboro” pada Sabtu, 21 Juli 2018 di Green Hall Kampus 1 UAD Jl Kapas Yogyakarta, diikuti 8 anak jalanan perempuan berusia 12-18 tahun, yang sehari-hari bekerja di lesehan kopi Jos, sepanjang Malioboro dan Alun-alun Utara Yogyakarta.

Sebelum menggelar karya photovoice, mereka diajak untuk belajar mengenai fotografi, membuat narasi, mendiskusikan problem keseharian, pengambilan foto, dan mendiskusikan hasil foto untuk pameran.

Selain itu, mereka diajak untuk memanfaatkan fotografi sebagai alat untuk menyuarakan dan menyampaikan isu-isu yang berdampak dalam kehidupan mereka.

Foto yang dipamerkan itu bukan hanya menjadi pengingat peristiwa yang akan dikenang pada masa yang akan datang. Namun, foto itu digunakan untuk menunjukkan kepada pihak-pihak terkait mengenai hal-hal yang selama ini ingin disampaikan.

Gelar karya suara foto ini, menampilkan bagaimana keseharian anak jalanan perempuan bekerja, menyampaikan suka-duka dalam bekerja, menyampaikan protes mengenai peran ganda perempuan dan mengeluhkan tempat tinggal yang berubah menjadi kafe dan lain sebagainya.

“Saya tidak tahu, apa itu foto yang bagus. Saya pikir, foto-foto itu tidak menarik dan hanya untuk mengingat suatu peristiwa,” kata Puji Lestari (14).

Sedangkan Fiola Devi (12) hanya mengatakan, dirinya memanfaatkan suara foto itu sebagai alat untuk menyuarakan peristiwa yang berdampak dalam kehidupannya.

Peserta merasa sangat lega setelah berhasil mendapatkan foto terbaik mereka dan membuat narasi yang menyuarakan apa yang ingin dikatakannya selama ini.

Peserta pun menyadari bahwa selama ini, kehidupannya penuh perjuangan. Namun, tidak ada yang bisa memahami.

Bagi Dessy Pranungsari, Humas Fakultas Psikologi UAD Yogyakarta, melalui kegiatan ini mereka bisa menceritakan potret diri sang pengambil foto. “Mendeskripsikan sebuah fenomena dan menyampaikan sebuah pesan,” kata Dessy Pranungsari, yang menambahkan teknik ini menjadi sarana yang efektif dalam menyampaikan pesan.

“Melalui foto ini kita berlatih untuk dapat menjelaskan suatu objek yang kita foto. Dan itu solusi alternatif dalam bentuk komunikasi partisipatif,” pungkas Dessy Pranungsari, yang menerangkan dengan photovoice kita dapat mengenal lebih dalam dan mengetahui fakta yang sebenarnya. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen + seventeen =