UIN-UIM Perkuat Kerja Sama Pendidikan

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin menjalin sinergi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah untuk memperkuat kerja sama pendidikan dengan Universitas Islam Madinah (UIM).
Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Dr Mohamad Hery Saripudin, menerima kunjungan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Prof Dr  H Mujiburrahman pada Kamis (15/3) di ruang kerjanya di KJRI Jeddah, berdasarkan keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.
Selain dalam rangka bersilaturahim, Rektor bersama tim menyampaikan agenda kunjungan kerjanya selama berada di Arab Saudi, terutama agenda pembahasan kerja sama yang akan disampaikannya dalam pertemuan dengan Rektor Universitas Islam Madinah (UIM).
Dalam kunjungan singkat tersebut, Konjen RI Jeddah menyampaikan “update” upaya KJRI Jeddah dalam rangka mempererat kerja sama bidang pendidikan antara Indonesia-Arab Saudi sebagai implementasi salah satu dari sebelas MOU antara RI-Arab Saudi yang telah ditandatangani dalam kunjungan Raja Salman Bin Abdulaziz ke Indonesia pada 2017.
Disampaikan Konjen bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pejabat UIM termasuk rektornya yang baru dan menyampaikan apresiasi atas penerimaan mahasiswa Indonesia di Universitas tersebut yang jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat.
Hingga saat ini terdapat sekitar seribu mahasiswa asal Indonesia yang belajar di UIM dengan skema beasiswa dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

    Selain itu, UIM telah menawarkan program pelatihan bahasa Arab (daurah) bagi para pejabat dan pemangku kepentingan di bidang pendidikan di Indonesia.
“Kebetulan rektor yang baru ini lulusan Amerika, lebih terbuka dan akomodatif,” kata Konjen.
Konjen juga mengusulkan kepada Rektor UIM untuk mengubah pola rekrutmen calon mahasiswa dengan melibatkan lembaga berwenang terkait di tanah air seperti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi  (restekdikti) Republik Indonesia dan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis).
“Jadi harus diubah, tidak terjun langsung atau bypass lembaga berwenang di Indonesia, selain untuk membantu menyeleksi (calon mahasiswa) dan menghindari munculnya stigma negatif,” ucap Konjen kepada Rektor UIN Antasari.
Terkait usulan Konjen di atas, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Riyadh Dr Ahmad Ubaedillah berpendapat senada dan telah menyampaikannya kepada pihak berwenang di Tanah Air.
Kepada Rektor UIN Antasari Konjen yang didampingi Pelaksana Fungsi (PF) Pensosbud-1 Mohammad Soekarno, PF Pensosbud-2 Umar Badarsyah dan Kepala Sekolah Indonesia Jeddah Sugiono, juga menyampaikan perkembangan terkini arah kebijakan pemerintah Arab Saudi seiring dengan GBHN-nya, yaitu visi 2030 dan dampaknya terhadap perubahan sosialnya yang terjadi sangat cepat.
Dalam beberapa pertemuan dengan para pejabat berwenang Arab Saudi termasuk kepada rektor UIM, imbuh Konjen, dirinya telah menyampaikan usulan pendirian pusat kebudayaan dan Bahasa Indonesia di setiap kampus.
Karena meningkatnya kebutuhan dan animo masyarakat Arab Saudi untuk mempelajari Bahasa Indonesia.
Konjen berharap agar Rektor juga memperkuat usulan tersebut pada pertemuan dengan Rektor UIM nanti.
Guru besar sosiologi agama yang menjabat rektor UIN Antasari sejak Oktober 2017 ini mengaku kaget dengan perubahan yang sangat pesat di berbagai bidang di Arab Saudi.
Ia menyatakan komitmennya untuk bersinergi dengan KJRI Jeddah dalam upaya memperkuat kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Arab Saudi.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 4 =