UMM Ingin Menginternasionalkan Pemahaman Tentang Islam

    Malang, jurnalsumatra.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya untuk menginternasionalkan pehamanan sekaligus meluruskan tentang Islam agar ke depan tidak ada lagi istilah “Islam Phobia”.
“Selama ini perguruan tinggi belum mengambil peran dan UMM ingin mengambil peran secara internasional dalam rangka memahamkan Islam kepada dunia dan perguruan tinggi lain pun juga harus ambil bagian,” kata Rektor UMM Fauzan di sela pembukaan “Annual International Conference on Islam and Civilization” (IACIC) di kampus UMM di Malang, Jawa Timur, Jumat.
Menurut dia, apa yang terjadi saat ini terkait Islam, khususnya Islam Phobia, harus banyak disuarakan dan perguruan tinggi harus ambil bagian, sehingga counter sekaligus untuk meluruskan pemahaman Islam tidak hanya dilakukan oleh orang per orang, tetapi melalui lembaga (institusi).
Upaya untuk menginternasionalkan pemahaman tentang Islam tersebut, katanya, tidak hanya dilakukan sekali ini saja, namun akan dilakukan secara berkelanjutan dan penyelenggaraannya tidak hanya di Indonesia. “Bisa saja IACIC selanjutnya di negara peserta lainnya, seperti Australia, Kolombia atau Filiphina,” ujarnya.
Untuk membangkitkan semangat Islam bagi perabadan dunia itu, UMM menginisiasi kegiatan IACIC  yang berlangsung pada 17 hingga 19 November 2017 di kampus itu.
Ketua Pelaksana AICIC Salis Yuliardi menyatakan kegiatan IACIC tersebut sebagai bentuk aksi nyata dari Islam yang selama ini banyak dikenal dengan peperangan dan terorisme. “UMM mengajak umat Islam dari berbagai belahan dunia untuk duduk bersama dan memberikan solusi nyata terhadap persoalan-persoalan yang sedang terjadi di dunia saat ini,” ujarnya.
Selain itu, AICIC dirancang sebagai acara akademik dan ilmiah untuk menjalin kerja sama lebih lanjut dalam penyelesaian masalah dunia.  Kegiatan ini juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa banyak Muslim yang sebenarnya telah menginspirasi dan menjadi bagian dari peradaban dunia.

      Pada segi tema, kegiatan ini ini benar-benar menekankan pada peran Islam untuk melahirkan pemikiran yang kontributif, bukan seperti yang berkembang selama, dimana Islam dianggap kurang memberikan kontribusi pada perdaban dunia.
Lebih lanjut, ia mengatakan kegiatan AICIC dibagi menjadi dua, yaitu presentasi call paper yang diikuti 11 k negara dan dilanjutkan dengan kegiatan konsorsium yang diikuti sejumlah perguruan tinggi di dunia yang mengelola pendidikan Islam.
Selain itu, pada konsorsium tersebut juga hadir para pakar dari Australia, Amerika, Kamboja, Filipina, Malaysia dan Indonesia. Para peserta yang hadir adalah orang-orang terpilih dan memiliki ketertarikan pada isu-isu dan konflik yang terjadi di dunia.
Beberapa pakar yang bakal dalam kegiatan IACIC di UMM itu adalah Prof Moh Zain Musa (Royal Academy of Cambodia), Prof Amin Saikal (Director of the Centre for Arab and Islamic Studies, Australian National University), Asst Prof Nefertari Arsad PhD (Istitute of Islamic Studies, University of Philippines Diliman Quezon City, Philippines).
Selain itu, Associate Prof Muhamad Ali (Director of Middle East and Islamic Studies, University of California, Riverside, USA), Prof Mun’im Sirry (Notre Dame University, USA), Prof Dr Amsal Bakhtiar MA dan Prof Dr Abdurrahman Mas’ud (keduanya dari Departemen Agama RI), Prof Dr Syamsul Arifin MSi (Wakil Rektor I UMM) dan Irfan Junaidi (editor in chief Republika).
“Dalam kegiatan ini, kami tidak hanya membahas isu-isu tentang Islam semata, tapi juga ekonomi Islam, politik Islam, sosial budaya, dan teknologi. “Kami berharap kegiatan selama tiga hari ini mampu memberikan kontribusi nyata demi kebangkitan Islam untuk peradaban dunia,” ujarnya.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + thirteen =