Wabup Sleman Kunjungi Kediaman Tjong A Fie di Medan

MEDAN, jurnalsumatra.com – Kediaman Tjong A Fie atau Tjong A Fie Mansion di Jl. Jenderal Ahmad Yani No.105, Kesawan, Medan, Sumatera Utara, menjadi salah satu tujuan rombongan Pemkab Sleman bersama Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun, M.Kes.

Jika dilihat dari gaya rumahnya yang memiliki desain campuran, tentu kita dapat menyimpulkan karakteristik seorang Tjong A Fie yang mengadaptasi banyak kebudayaan di rumahnya.

Kediaman Tjong A Fie yang didesain dengan gaya arstitektur Tionghoa, Eropa, Melayu dan art-deco, dibuka untuk umum sejak tahun 2009.

Karena banyak orang yang ingin tahu tentang kepribadian Tjong A Fie dalam membina keluarga, merangkul masyarakat kota Medan, dan hal-hal apa saja yang terjadi pada beliau hingga akhir masa hidupnya.

Tjong A Fie adalah seorang pengusaha, bankir dan kapitan yang lahir di provinsi Guangdong (Kanton), Tiongkok, dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera.

Lama tinggal di Medan, Tjong A Fie banyak belajar dan memiliki orang dekat dari kalangan Melayu. Oleh sebab itu, ia juga mengadaptasi budaya Melayu ke perilaku serta memilih ornamen Melayu untuk arsitektur rumahnya.

Dan tempat itu, satu tempat wisata sejarah yang mengundang penasaran bagi wartawan peliput Sleman. Bagaimana tidak? Masyarakat kota Medan yang terkenal dengan identitas budaya lokalnya memiliki sosok yang paling berpengaruh dalam pembangunan kota Medan dari kalangan Tionghoa.

Hal itu bukan tanpa alasan. Kita ketahui, Tjong A Fie merupakan bankir yang kaya raya di masanya. Ia sangat dermawan dan memegang peranan besar dalam membentuk kota Medan.

Selain itu, Tjong A Fie menjaga harmonisasi hubungan kepada pemerintah Hindia Belanda, Kesultanan Deli dan masyarakat Medan hingga kekaisaran China.

Berada di tempat itu, kita bisa melihat keindahan rumah sambil membayangkan apa yang terjadi sekitar satu abad yang lalu.

Di rumah ini, kita bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto. Ya, dulu Tjong A Fie merupakan tokoh yang rajin mendokumentasikan setiap kegiatan: berkumpul keluarga, ulang tahun hingga pernikahan dan pertemuan penting.

Di kediaman itu, juga ada lukisan dan perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya.

Pengunjung dapat mempelajari budaya Melayu-Tionghoa dari arsitektur dan koleksi perabotan di rumahnya.

Rombongan Pemkab Sleman, satu demi satu melihat ruangan demi ruangan dan menilai sendiri kepribadian tokoh Tionghoa berpengaruh tersebut.

Ya, ia merupakan sosok sederhana walaupun memiliki kekayaan berlimpah dari usahanya yang sukses.

Dari kediaman itu, memperlihatkan ruangan, di mana Tjong A Fie membaca di ruangan khusus bacanya. Tumpukan buku koleksi beliau masih ada dan di simpan dalam lemari yang tidak boleh dibuka.

Ruang tidurnya dengan tempat tidur berbahan kayu dan bergaya klasik, memiliki tirai atau kelambu. Ada pula meja hias dan kursi santai, tempat ia bersama istri bercengkrama.

Kemudian, ruang makan berbahan kayu dilengkapi dengan koleksi piring dan gelas lawas yang terpajang di atas meja makan.

Ada pula ruang ibadah yang cukup luas, dilengkapi pernak-pernik Tionghoa dan lukisan serta pajangan berbahasa China.

Kediaman Tjong A Fie  memiliki ruang kumpul keluarga yang dipenuhi banyak kursi berbahan kayu. Terlebih ruang tamu yang bergaya Melayu dengan dominasi warna kuning.

Hampir seluruh perabotan dan bangunan berbahan kayu. Atap berbahan kayu yang dilukis ornamen Tionghoa, anak tangga berbahan kayu, dan beberapa ruang serta dinding atau pembatasnya juga berbahan kayu.

Selain itu, semua perabotan seperti lemari, rak, kursi, meja hingga tempat tidur dan beberapa pajangan juga dari bahan kayu jati.

Tjong A Fie mewasiatkan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia. (Affan)

Leave a Reply