WADA Dinilai Lebih Tunduk Pada Uang Ketimbang Prinsip

   London, jurnalsumatra.com – Mantan direktur badan anti-doping sedunia (WADA) hari Jumat (Sabtu WIB) menilai bahwa keputusan WADA untuk memulihkan kembali wewenang badan anti-doping Rusia (RUSADA), lebih dipengaruhi oleh kepentingan keuangan ketimbang prinsip-prinsip dasar organisasi itu.
David Howman, direktur jenderal WADA periode 2003-2016 dan kini menjabat di Unit Integritas Olahraga, unit yang dibentuk federasi atletik global untuk mengantisipasi doping dan korupsi, tidak menunjukkan bukti-bukti pernyataannya.
WADA sendiri telah membantah tuduhan itu.
Keputusan WADA memberi jalan bagi Rusia untuk kembali ke Olimpiade setelah diskorsing pada Olimpiade Musim Dingin 2018 di Korea Selatan.

RUSADA diskors pada 2015 setelah laporan independen WADA oleh tim investigasi pimpinan pengacara Kanada Richard McLaren menyebutkan adanya praktik doping yang sistemik dan didukung negara.
Setelah laporan McLaren jilid kedua dipublikasikan pada Desember 2016, Komite Olimpiade Internasional (IOC) memerintahkan federasi-federasi olahraga anggotanya agar tidak menggelar turnamen di Rusia hingga RUSADA mematuhi aturan WADA. Rusia juga diskorsing dari kejuaraa Atletik Dunia tahun 2017.
“Tampaknya mereka membuat keputusan dengan alasan-alasan prakmatis, dan menyimpang dari peta jalan yang sudah disusun bersama-sama secara hati-hati, ” kata Howman.
“WADA telah berubah, dari sebuah organisasi yang peduli atas kebersihan atlet, menjadi organisasi yang lebih peduli pada federasi-federasi olahraga yang tidak bisa menggelar even di Rusia. Jadi uang mengalahkan prinsip-prinsip dasar,” katanya.
Sementara itu juru bicara WADA mengatakan, “keputusan dibuat oleh mayoritas Komite Eksekutif (dari unsur pemerintah dan olahraga), menyusul rekomendasi dari komite kepatuhan yang independen dan non-politis.”(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × three =