Wamen LHK sebut lingkungan diperhatikan saat produksi pangan dinaikkan

Jakarta, jurnalsumatra.com – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong mengatakan Indonesia memperhatikan aspek lingkungan saat poduksi pangan coba dinaikkan dalam menghadapi pandemi COVID-19.

  Alue yang berbicara dalam sesi Why peatlands matter for food security yang diadakan International Tropical Peatlands Center dalam Global Landscape Forum Digital Conference 2020 yang diakses dari Jakarta, Rabu malam, mengatakan pemerintah mencoba melakukan secara bijak dengan perspektif yang lebih luas, tidak hanya memaksimalkan produksi pangan tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan.

  Karenanya, menurut dia, yang dilakukan sekarang adalah mencoba untuk memproduksi komoditas dengan memaksimalkan sumber daya yang ada.

  “Pandemi COVID-19 bisa ‘positif’ jika diatur dengan benar. Saya rasa Indonesia masih di ‘track’ yang  benar, terutama kebijakan lingkungan berkaitan dengan gambut,” ujar Alue.

  Ia mengatakan kondisi pandemi COVID-19 akan mengubah keadaan. Negara-negara di dunia mencoba menyelamatkan stok pangan mereka masing-masing karena tidak tahu kapan penyakit itu akan berakhir.

  Sehingga, menurut Alue, yang terjadi adalah deglobalisasi. Kebijakan berubah untuk memastikan suplai pangan mereka tetap ada. Dan sejauh ini kebijakan yang diambil Pemerintah Indonesia cukup mutakhir.

  “Kami ambil kebijakan itu secara saintifik. Kami dengar juga dari ahli soal level muka air lahan gambut yang minus 40 sentimeter”.

  Sementara itu, kaitannya dengan rencana cetak sawah baru di lahan gambut, Guru Besar dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Azwar Maas mengingatkan bahwa tanaman pangan butuh air. Dirinya sangat berharap pengembangan rawa gambut untuk padi jangan sampai ada di gambut tebal.

  “Kalau kita sepakat pengembangan di gambut tipis atau yang cukup sumber airnya saja. Di Kalimantan Tengah ada tiga sungai utama. Pembukaan lahan pasang surut itu cukup bijak,” ujar dia.

  “Kita sudah durhaka pada alam, maka berdayakan alam itu dengan baik,” katanya. 
Ia menambahkan; “pangan itu butuh air, musuh api itu air, kami sangat berharap pengembangan rawa gambut itu jangan sampai terkait dengan gambut tebal, kalau kita sepakat pengembangan di gambut tipis atau yang cukup sumber airnya saja di Kalteng yang ada di 3 sungai utama.”

  Pembukaan lahan pasang surut itu yang cukup bijak, kita sudah durhaka ke alam maka berdayakan alam ini sesuai dengan pesan BNPB.(anjas)