Warga Solo Aksi Damai Jaga Persatuan Indonesia

Solo, jurnalsumatra.com – Sejumlah warga Solo melakukan aksi damai mengimbau para elit politik usai Pemilu 2019 untuk tetap menjaga persatuan Indonesia membangun bangsa.

  Warga Solo selain melakukan orasi tetap menjaga persatuan bangsa, juga menggelar teatrikal menggunakan topeng wajah Calon Presiden dan wakil Presiden 01 Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga di depan Plaza Manahan Solo, Jumat petang.

  Bahkan, mereka juga menggelar sejumlah spaduk bertulisan “Jangan Lama Berseteru Ayo Bersama Lanjutkan Membangunan Bangsa”, “Indonesia Umat Cinta Damai’, dan “Indonesia Menanti Rekonsiliasi Putra Putra Terbaik Bangsa”.

  Warga yang sedang beraksi menggunakan topeng wajah Capres dan Cawapres melakukan teatrikal saling memberikan makanan menggambarkan kerukunan antara Jokowi dengan Prabowo, dan Ma’ruf dengan Sandiaga.

  Bahkan, aksi tersebut menjadi perhatian masyarakat, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sertan Wali Kota Surakarta F.X Hadi Rudyatmo hadir ke lokasi aksi.

  Menurut Subagyo, selaku koordinator aksi warga minta agar kedua putra terbaik bangsa melakukan pertemuan untuk persatuan Indonesia ini.

  “Para elit politik jangan lama-lama berseteru ayo bersama lanjutkan pembangunan bangsa ini,” kata Subagyo.

  Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, pihaknya mengapresiasi aksi yang dilakukan warga Solo ini. Warga Solo memang terkenal luwes dalam menyamapaikan aspirasinya.

  “Warga dengan menggunakan topeng wajah Ma’ruf Amin bersama mas Sandiaga membagikan takjil kepada warga yang melintas di depan Plaza Manahan ini,” kata Ganjar saat menghadiri aksi dan membagikan takjil pada Ramadhan ini.

  Bahkan, warga membawa poster tulisan jangan lama-lama berseteru ayo bersama lanjutkan membangun bangsa.

  “Artinya, ketika kemudian tidak terlalu banyak elit berbicara, maka hari ini, rakyat berbicara mereka merindukan kesejukan memberikan perdamian untuk segera bisa bertemu.” kata Ganjar.

  Dengan demikian, kata dia, tidak ribet tiap hari dan masyarakat yang di daerah menjadi nyaman, seneng, dan tidak ikut congkrah.

  “Saya melihat gerakan rakyat itu, yang sangat kultural yang menanti persatuan dan kesejukan untuk membangun bangsa Indonesia,” katanya.(anjas)