Warga SP Padang Temukan Kandungan Gas

KAYUAGUNG, jurnalsumatra.com – Saat melakukan pengeboran untuk membuat sumur di dekat kediamannya, Elsuandi, warga Dusun VI Desa Awal Terusan, Kecamatan SP Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikejutkan dengan semburan air yang diduga mengandung gas dari sumur tersebut.
Hal tersebut diketahui setelah dilakukan pengeboran sedalam sekitar 60 meter. Melihat kejadian tersebut, Elsuandi dan warga sekitar langsung melaporkan kejadian ini kepada Kepala Desa yang selanjutnya diteruskan kepada Camat SP Padang, Herliansyah.
Dikonfirmasi terkait kejadian ini, Pria yang akrab dikenal Herli ini membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, dia mendapatkan laporan dari warga, Rabu (26/9/2018) malam.
“Iya benar, saat ini saya sedang berada di lokasi pengeboran untuk memastikan kebenaran informasi tersebut,” katanya, Kamis (27/9/2018).
Diceritakannya, kejadian tersebut diketahui saat warga yang melakukan pengeboran hendak menyalakan rokok. “Saat itu mereka akan menghidupkan rokok, tapi ada yang mencium bau gas. Tapi baru diketahui jelas saat malam hari, karena jelas kelihatan apinya,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Herli, di lokasi pengeboran warga juga melihat uap gas. “Semalam sudah kita laporkan ke Dinas Perumahan Rakyat, untuk surat resmi juga akan kita sampaikan. Untuk saat ini kondisi di lokasi kejadian masih kondusif, selain itu ada beberapa warga juga ada yang datang untuk melihat lokasi pengeboran yang mengeluarkan gas,” pungkasnya.
Terkait adanya kandungan gas pada air hasil sumur bor yang dibuat oleh warga Desa Awal Terusan, Kecamatan SP Padang, Kabupaten OKI, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten OKI, H Husin SPd MM mengatakan, hal tersebut merupakan salah satu gejala alam.
Menurutnya, hal yang sama juga sebelumnya pernah terjadi di kecamatan lain di Bumi Bende Seguguk. “Kejadian yang sama juga pernah terjadi di Kecamatan Pedamaran. Ini merupakan salah satu gejala alam,” katanya, Kamis (27/09).
Dijelaskannya, dari beberapa fenomena yang terjadi, gas tersebut tidak serta merta menyembur dan permanen sampai bertahun-tahun. “Biasanya kalau sudah habis dia langsung redup (hilang). Tapi tetap masyarakat harus waspada jangan sampai malah menimbulkan masalah baru lagi misal menimbulkan korban, kalau memang pengen lihat cukup dari jauh,” ujarnya seraya mengatakan agar pihak kades membuat batasan untuk warga yang ingin melihat.
Masih kata Husin, sektor pertambangan saat ini di bawah naungan pihak provinsi sehingga pihaknya tetap akan berkoordinasi dengan pihak provinsi terkait gejala alam yang kembali terjadi ini. (ata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × one =