Yogyakarta Beri Layanan Vaksinasi Rabies Gratis

    Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta memberikan layanan vaksinasi rabies gratis untuk hewan peliharaan yang dimiliki warga setempat guna mencegah penularan penyakit yang juga bisa menyerang manusia tersebut.
“Layanan ini akan kami berikan hingga pertengahan Oktober di seluruh kelurahan. Di tiap kelurahan akan ada petugas yang berjaga selama tiga hari baru kemudian bergeser ke kelurahan berikutnya,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Rabu.
Warga Kota Yogyakarta yang memiliki hewan peliharaan, khususnya anjing, kucing, dan kera bisa datang langsung ke kelurahan setempat untuk mengakses layanan vaksinasi rabies secara gratis tersebut.
Sejak pertengahan September hingga saat ini, Sugeng menyebut, jumlah hewan peliharaan yang mendapatkan layanan vaksinasi rabies secara gratis berkisar 20 hingga 50 ekor per kelurahan dan masih didominasi anjing serta kucing.
“Untuk kera belum ada. Ketiga jenis binatang tersebut memang bisa menjadi perantara rabies ke manusia sehingga perlu divaksin,” katanya.
Pada saat vaksinasi, lanjut Sugeng, juga dilakukan pendataan terhadap hewan peliharaan untuk dijadikan sebagai basis data bagi Dinas Pertanian dan Pangan yang selanjutnya bisa dijadikan sasaran pelaksanaan vaksinasi rabies pada tahun berikutnya.
“Jika memang tidak bisa datang langsung ke kelurahan, maka petugas kami pun siap datang ke rumah  untuk memberikan vaksinasi. Sebaiknya, vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan bisa dilakukan rutin satu tahun sekali,” katanya.

     Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menjamin ketersediaan vaksin rabies selama melaksanakan program pemberian vaksinasi gratis. Jika masyarakat mengakses secara umum, harga satu kali suntikan vaksin rabies Rp30.000 atau bisa lebih mahal.
Sejauh ini, lanjut Sugeng, belum diperoleh laporan adanya hewan peliharaan yang menderita rabies dan menularkannya ke manusia.
Jika ada kasus gigitan anjing, kucing, atau kera akan dilaporkan ke puskesmas terdekat.
Warga yang menjadi korban, ditangani oleh puskesmas, sedangkan pihaknya menangani hewan yang menggigitnya.
ż”epanjang 2018, sudah ada lima laporan kasus gigitan anjing. Tetapi setelah dilakukan pemeriksaan terhadap korban dan anjing, tidak ditemukan indikasi penularan rabies,” katanya.
Sugeng menyebut indikasi hewan yang menderita rabies biasanya ditunjukkan dengan perilaku hewan yang menjadi lebih agresif dan menggigit.
“Jika tidak ada kasus gigitan hewan ke manusia, maka tidak bisa didata hewan yang menderita rabies,” katanya.
Manusia yang tertular rabies memiliki risiko kematian dengan berbagai gejala yang ditunjukkan, seperti demam tinggi, bersikap agresif, air liur menjadi lebih banyak, dan takut dengan air.
Hewan yang menggigit dan terindikasi menderita rabies, lanjut Sugeng, akan dikarantina dan diberi penanganan kesehatan, termasuk diberi vaksin.
“Kami juga rutin melakukan penangkapan terhadap anjing atau kucing liar. Semuanya akan kami beri vaksin rabies,” kata Sugeng yang menyebut saat ini populasi kucing liar di Yogyakarta cukup banyak.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × five =