Yohana: Kampanye “Heforshe” Ubah Cara Pikir Laki-Laki

    Jakarta, jurnalsumatra.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menyatakan bahwa kampanye “HeForShe” yang diluncurkan secara global oleh UN Women pada 2014, bertujuan mengubah cara pikir laki-laki terhadap perempuan.
Namun, bagi masyarakat Indonesia yang hidup dalam lingkungan yang masih didominasi laki-laki dengan sistem patriarki yang kuat, gerakan solidaritas dengan mendorong laki-laki berpartisipasi dan menjadi agen perubahan kesetaraan gender yang juga telah disosialisasikan secara nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2016 ini cukup sulit diimplementasikan.
“Untuk mengubah cara pikir laki-laki agar lebih menghormati perempuan adalah isu besar di Indonesia, karena laki-laki masih mendominasi sebagian besar posisi strategis di negara ini,” ujar Yohana dalam Peluncuran Kampanye HeForShe untuk ASEAN di Jakarta, Kamis.
Presiden Jokowi yang ditunjuk sebagai salah satu Duta HeForShe telah memulai gerakan tersebut antara lain dengan memilih sembilan orang menteri perempuan dalam Kabinet Kerja.
Sikap ini, menurut Yohana, adalah perhatian besar presiden terhadap perwujudan kesetaraan gender di Tanah Air, sekaligus menunjukkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki bisa bekerja sama kerasnya untuk mendukung pembangunan dan mengambil kebijakan.
Sedangkan dari sisi budaya dan tradisi, Kementerian PPPA telah menggandeng para pemimpin adat di Papua dan Nusa Tenggara Timur, untuk ikut mengajak masyarakat lebih menghargai peran perempuan, melaksanakan program-program pemberdayaan perempuan, dan tidak lagi menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki.

    “Kerja sama seperti ini perlu dilakukan karena sebagian besar masyarakat terutama di Indonesia timur masih memegang budaya dan tradisi dengan sangat kuat, di mana perempuan diposisikan tidak punya kekuatan sama sekali,” ujar Yohana.
Seiring perkembangannya HeForShe kini memiliki tujuan yang lebih besar yakni perubahan sistematis dan struktural untuk menciptakan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di bidang ekonomi, sosial, dan politik serta mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan.
Data Kementerian PPPA pada 2016 menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan berusia 15-64 tahun di Indonesia adalah subjek kekerasan fisik, psikologi, atau seksual oleh pasangan mereka atau pihak lain.
Kekerasan fisik dan seksual lebih rentan dialami perempuan urban dengan prosentase kemungkinan 36,3 persen dibandingkan 29,8 persen kemungkinan dialami perempuan di pedesaan. Kekerasan paling banyak dialami oleh perempuan lulusan SMA yakni 39,4 persen dan perempuan tidak bekerja sebesar 36,1 persen.
Untuk mendukung kampanye HeForShe di tingkat nasional, Kementerian PPPA kemudian giat mengampanyekan program “Three Ends” yang fokus pada penghentian kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia dimana perempuan dan anak-anak sebagai korban, serta hambatan ekonomi, kesetaraan, dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak-anak.
“Dengan menyosialisasikan kampanye ini di seluruh daerah di Indonesia kami berharap Indonesia bisa lebih cepat mencapai kesetaraan gender untuk mendukung pembangunan berkelanjutan,” tutur Yohana.(anjas)

Leave a Reply