Zaki Lakukan Gerakan Sebutir Debu di Pasar Beringharjo

Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Seorang advokat di Yogyakarta, Muhammad Zaki Sierrad, SH, CN, MH, melakukan gerakan pendataan barang milik pedagang pasar yang terserak di kios mereka.

“Nantinya akan kita kategorikan dan diberi kode digital agar mudah di tawarkan di media online,” ungkapnya.

Menurutnya, pedagang pasar manapun saat ini terdampak Pandemi COVID-19. Banyak pula berita-berita yang menerangkan konsumen tidak mendekati pedagang. “Maka, pedagang harus mendekati konsumen,” tandasnya. 

Tapi, kata Zaki, persoalannya banyak pedagang di pasar tradisional itu yang tidak mengerti caranya.

Karena pentingnya perdagangan dalam hidup harus terus hidup, maka Zaki memberi dorongan kepada pada pedagang di pasar Beringharjo Yogyakarta untuk tangguh. “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan,” ungkapnya.

Kalau pedagang mati, kata Zaki, maka ada sembilan pintu rezeki tertutup. “Dan, sudah pasti akan menimbulkan malapetaka ekonomi. Supply Chain terganggu. Semua akan terdampak,” ungkap Zaki.

Menurut Zaki, orang yang memiliki kelebihan ilmu, tenaga dan dana harus bergerak untuk berbuat membantu dan mau keluar dari kepentingan individu. Makanya ia melakukan gerakan untuk memikirkan rasa persaudaraan terhadap penderitaan saudara sebangsa lewat Beringharjo Initiative.

“Gerakan ini hadir dengan keinginan untuk itu, juga mengajak masyarakat semua untuk ikut bertanggungjawab mengatasi dampak pandemi COVID-19 dimulai dari pasar,” terang Zaki, Kamis (25/6/2020).

Gerakan ini dimulai dengan melatih relawan dalam sebuah “Sekolah Gratis”.

Kata Zaki, masyarakat saat ini masih buta terhadap detail teknologi informasi, yang ternyata bisa sangat bermanfaat mengatasi dampak COVID-19 ini.

Pemanfaatan Smartphone untuk menghasilkan foto produk yang baik misalnya, ternyata harus diajarkan. Dan Zaki, lagi-lagi mengajarkan hal itu kepada para pedagang pasar Beringharjo. Banyak materi lain yang diajarkan Zaki demi digitalisasi dagangan.

Hal itu dilakukan dalam rangka untuk membuat web pedagang. “Tentu saja itu salah satunya,” terangnya.

Banyak hal ternyata yang harus dikerjakan Zaki untuk menuntaskan pertemanan, persahabatan dan kekancan terhadap sesama warga bangsa melalui gerakan gotong-royong dan gerakan donasi.

Selain itu, Zaki juga menawarkan kepada pedagang pasar Beringharjo berupa paket dagangan menuju wujud norma baru dalam situasi new normal. 

Ini pula yang sudah coba diinisiasi oleh Zaki hampir sebulan sejak Mei 2020. “Tidak hanya sekadar melulu berbisnis, tapi ada prinsip ajak pedagang dan warga masyarakat untuk selamatkan perdagangan di pasar,” kata Zaki, yang juga support buruh gendong pasar Beringharjo.

Jika inisiasi Beringharjo ini dilihat dari norma dan dari teknologi kekinian bisa dikatakan sebagai konsepsi yang niscaya akan dilakukan. “Mau tidak mau harus ke sana dengan teknologi online dengan spiritualisme semangat gotong royong dan menolong sahabat,” paparnya.

Dikatakannya, hidup bersama sahabat dan pedagang dengan tulus akan menjadi energi positif untuk membendung ekses dampak COVID-19 menuju norma kehidupan terbaik. 

Selain itu, melalui gerakan digitalisasi dagangan itu membuat pasar jadi sehat dengan norma yang sehat. “Maka akibatnya kita semua akan ikut sehat di era new normal ini,” terang Zaki, yang menambahkan energi positif akan muncul dan gotong-royong akan menguatkan bersama mengatasi dampak COVID-19. (Affan)