Zulkarnain Jelaskan Semua Uang Dikelola Komite

Palembang , jurnalsumatra.com – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)  SMA Negeri 21 Palembang tahun 2018 menerima 325 siswa.  Berdasarkan kesepakatan orang tua siswa dengan komite sekolah, siswa membayar uang sumbangan sarana dan prasarana Rp 1.750.000. Namun dari 325 siswa baru, sebanyak 12,5 persen siswa baru yang tidak mampu dan anak yatim tidak dikenakan uang sumbangan sarana dan prasarana alias gratis.

Kepala Sekolah SMA Negeri 21 Palembang Zulkarnain mengatakan,  uang sumbangan dan iuran siswa dikelola oleh Komite Sekolah. “Semua uang komite dikelolah oleh komite sekolah.  Uang sumbangan dan iuran siswa,  nominalnya sudah disepakati oleh orang tua siswa.  Termasuk penggunaannya digunakan sangat jelas untuk pembangunan sarana dan prasarana bagi siswa,” ujarnya saat diwawancarai diruang komite SMA Negeri 21 Palembang,  Sabtu (1/12/2018)

Zulkarnain mengungkapkan,  pihaknya gencar melakukan pembangunan dengan tujuan meningkatkan akreditasi sekolah.  “Saya menjadi Kepsek di sekolah ini 6 Juni 2016 . Ketika saya menjadi Kepsek disini,  akreditasinya masih B.  Tapi setelah terus dilakukan penambahan sarana dan prasarana sekolah,  akreditasi SMA Negeri 21 sekarang sudah naik menjadi A.  Penambahan fasilitas sekolah ini menjadi prioritas, karena kita ingin sejajar dengan sekolah unggulan lainnya, ” paparnya.

Ketua Komite SMA Negeri 21 Palembang Faizar Abdullah mengatakan,  pada PPDB tahun ini jumlah siswa baru 325 orang.  Dari jumlah tersebut 12,5 persen tidak dikenakan uang sumbangan sarana dan prasarana.

“Siswa yang diterima pada PPDB tahun ini,  berdasarkan hasil kesepakatan rapat dengan orang tua siswa,  orang tua siswa yang mampu membayar uang sumbangan sarana dan prasarana Rp 1.750.000 persiswa. Tapi siswa yatim piatu dan kurang mampu kami gratiskan. Dengan syarat membawa surat keterangan tidak mampu dari Lurah, ” katanya.

Uang sumbangan itu,  lanjut Faizar,  digunakan untuk pembangunan  pembangunan sarana dan prasarana sekolah yakni  pagar,  taman,  kantin,  kolam rentensi,  wc, gazebo, ruangan sanggar kesenian siswa, laboratorium  komputer,  laptop, parkir motor. Selain itu,  uang sumbangan juga kami belikan sarana siswa lainnya seperti kipas angin, CCTV,  band untuk ekstrakulikuler siswa,  radio dan lainnya,” bebernya.

Untuk iuran komite siswa, sambung Faizar,  siswa kelas 10 membayar Rp 150 ribu perbulan,  sedangkan siswa kelas 11 dan 12 membayar iuran komite Rp 100 ribu perbulan.  “Bagi siswa yatim piatu dan kurang mampu juga digratiskan. Uang iuran tersebut digunakan untuk membayar insentif guru honor,  serta pembiayaaan 14 ekstrakulikuler siswa, dan kegiaran hari  besar nasional.  Intinya uang sumbangan dan iuran komite ini dikelolah secara jelas dan transparan untuk pembangunan dan kemajuan sekolah,” terangnya.

Menanggapi pogram pembuatan Alkena (buku album sekolah)   dan majalah,  Faizar menuturkan,  itu dikelolah oleh OSIS.  “Mereka yang memiliki program itu,  kita hanya mengkoordinir pengumpulan uang saja.  Setelah terkumpuln uangnya dikelolah oleh OSIS, ” ucapnya.

Anggota Komite SMA Negeri 21 Palembang yang juga   Ketua RT 05 RW 02 Kelurahan Talang Betutu Yudianto menambahkan,  semenjak SMA Negeri 21 Palembang dipimpin oleh Pak Zulkarnain sejak Juni 2016 sudah banyak pembangunan di SMA Negeri 21. “Sebelum Pak Zulkarnain memimpin disini,  sekolah ini sangat memprihatinkan karena tidak layak dipakai.  Tapi saat Pak Zulkarnain menjadi Kepala Sekolah disini,  sekolah ini berubah 500 persen menjadi sekolah yang sangat lengkap sarana dan prasarananya,  menyaingi sekolah unggulan lainnya. Kami mendukung semua program yang dibuat oleh Kepsek dan Komite untuk kemajuan pembangunan sekolah ini, ” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Widodo mengatakan,  ada ruang bagi sekolah untuk menghimpun dana dari masyarakat.  Di Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud), sekolah juga dapat menghimpun dana dari orang tua siswa.

“Seharusnya dipilah-pilih dulu siapa saja yang akan dimintai sumbangan untuk pengumpulan dana. Yang terpenting,  anak yatim dan siswa kurang mampu tidak boleh dimintai sumbangan,” pungkasnya. (Yanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × three =