oleh

Desember 2020 nilai ekspor Sumatera Selatan naik 28,36 persen

Palembang, jurnalsumatra.com – Nilai ekspor Provinsi Sumatera Selatan meningkat 28,38 persen pada Desember 2020 jika dibandingkan bulan sebelumnya karena ditopang membaiknya perdagangan luar negeri barang-barang komoditas seperti karet, bubur kertas dan batubara.

Kepala BPS Sumatera Selatan Endang Tri Wahyuningsih di Palembang, Jumat, mengatakan, tiga komoditas tersebut mengalami kenaikan volume ekspor cukup signifikan sehingga ekspor Sumsel pada Desember bisa membukukan nilai 390,46 juta dolar AS.

Batubara mencatat kenaikan ekspor tertinggi yang mana dari sisi volume sebesar 1.724.822,86 ribu ton pada Desember 2020 atau naik 62,26 persen dibandingkan November 2020. Pada periode tersebut, batubara mengalami kenaikan nilai ekspor dari 41,89 juta dolar AS menjadi 67,97 juta dolar AS.

“Sebagian besar batu bara ini memenuhi permintaan Tiongkok, yang mana saat ini industrinya mulai hidup kembali setelah COVID-19,” kata Endang.

Kemudian disusul komoditas bubur kayu yang mengalami kenaikan 20,96 persen untuk volume ekspornya yakni dari 199.052,00 ribu ton pada November 2020 menjadi 240.766,00 ribu ton pada Desember 2020. Komoditas ini membukukan nilai ekspor bagi Sumatera Selatan senilai 109,10 juta dolar AS atau meningkat 20,22 persen yang sebagian besar komoditas ini dikirimkan ke Tiongkok.

Kemudian, komoditas yang ketiga penyumbang nilai ekspor terbanyak di Sumsel yakni karet dan barang dari karet yang mengalami kenaikan 12,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya jika ditinjau dari sisi volume. Pada Desember 2020 tercatat ekspor Sumsel mencapai 84.711,41 ribu ton atau meningkat dari bulan sebelumnya 75.014,23 ribu ton. Sementara dari sisi nilai ekspor mencatat kenaikan 21,75 persen atau mengumpulkan 126,07 juta dolar pada akhir tahun lalu. BPS mencatat sebagian besar ekspor karet ini dikirimkan ke Amerika Serikat.

Selain tiga komoditas utama itu, peningkatan nilai ekspor Sumatera Selatan ditopang juga oleh perdagangan luar negeri produk kertas tisu, minyak kelapa sawit, pupuk urea, kelapa, produk farmasi dan bungkil dan residu. Dari berbagai barang ini, hanya kertas tisu, kepala dan produk farmasi yang mencatat pertumbuhan negatif pada Desember 2020.

Dari sisi sub sektor secara perubahan mouth to mount (Desember 2020 terhadap November 2020), BPS mencatat ekspor pertambangan memberikan kontribusi tertinggi dari nilai ekspor Sumsel pada akhir tahun lalu, yakni 65,89 persen, kemudian disusul migas 47,19 persen, industri (karet remah/crumb rubber), bubur kertas, minyak kelapa sawit 23,17 persen, dan pertanian (kelapa, lada hitam, tanaman obat, dan rempah-rempah) justru minus 39,08 persen.

Sejauh ini sektor industri berkontribusi 77,18 persen dari nilai ekspor Sumsel, kemudian disusul tambang 16,69 persen, migas 4,86 persen dan pertanian 1,27 persen sehingga secara year to year, nilai ekspor Sumsel mengalami kenaikan 15,27 persen.

Dari total ekspor Sumsel selama Januari-Desember 2020, diketahui bahwa ekspor non migas berkontribusi hingga 95,14 persen.(anjas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed