oleh

In memoriam Prof Aminuddin Ponulele, dari loper koran sampai gubernur

Palu, jurnalsumatra.com – Gubernur Sulawesi Tengah pada periode 2001/2006 Prof Aminuddin Ponulele tutup usia Rabu (27/01). Namanya dikenal sebagai politikus sekaligus guru senior di Sulawesi Tengah.

Beberapa jabatan penting dan strategis pernah ia emban. Mulai dari ketua sejumlah organisasi masyarakat, ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Rektor Universitas Tadulako, Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Ketua MUI Sulteng, hingga menjadi gubernur.

Jabatan yang diembannya diperoleh tidak semudah membalikan telapak tangan, tetapi ia memiliki rekam jejak panjang dan berliku dari sang tokoh.

Sebelum ia meraih puncak kepemimpinan pada sejumlah jabatan, sang profesor ini pernah menjadi loper koran di Manado, Sulawesi Utara, saat menjadi mahasiswa.

“Beliau dari dulu punya darah wartawan, waktu dia sekolah di Manado, ambil sarjananya di Manado dia jadi loper, bikin berita, bahkan sempat pegang koran di Manado,” cerita Takbir Launtina, wartawan senior di Sulteng, yang juga sahabat dekat almarhum.

Takbir juga mengisahkan karirnya jurnalis mantan gubernur itu. Pada 1984-2000 Aminuddin juga menjadi pendiri dan pimpinan umum koran Mingguan Pelopor. Bahkan, pernah terpilih menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

“Saya lupa sekitar tahun berapa jadi ketua PWI, yang jelas beliau pernah bilang sama saya, kalau dia punya darah wartawan,” cerita Takbir

Takbir menambahkan, saat menjelang selesai masa jabatannya sebagai ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Aminuddin bahkan mengajak Takbir mendirikan sebuah media.

“Dia bilang kalau saya sudah pensiun kita bikin media. Saya bilang, kalau komiu pensiun, saya juga pensiun nanti tidak bisa sebab media harus banyak yang dukung, apalagi dari segi pendanaan,” ungkap Takbir

Saran yang diberikan Takbir tersebut langsung ditanggapi Aminuddin, dan media yang diberi nama Oktav tersebut diterbitkan sebelum almarhum pensiun.

“Oh ia terbitkan saja,” sebut Takbir, mengulang kata dari Almarhum Aminuddin Ponulele.

Media bulanan Oktav dengan enam puluh halaman itu terbit pada tahun 2013. Nama oktav yang diartikan sebagai suara kuat dari rakyat itu, berdiri hingga saat ini, dengan pimpinan umum Aminuddin Ponulele, dan pemimpin redaksinya Takbir Launtina.

Sosok Aminuddin Ponulele di mata takbir, adalah seorang yang tegas dalam kepemimpinannya.

“Kalau yang kenal baik pasti tahu beliau. Tapi kalau yang tidak dikenal, dikira beliau itu bahasanya kasar, padahal tidak, dia itu orangnya tegas dan sosial,” terang Takbir.

Rolex Malaha, salah satu wartawan senior di Sulawesi Tengah, juga menyampaikan duka yang mendalam atas kepergian Prof. Aminuddin Ponulele.

Mantan Kepala Biro LKBN Antara Sulteng itu berpesan agar memetik kedisplinan dan ketekunan Aminuddin dalam bekerja.

“Profesor seorang yang disiplin, dia menggodok wartawan muda untuk tekun dalam bekerja, dia berpesan agar pekerjaan itu ditekuni,” ungkap Rolex.

Ia menyebut Aminuddin Ponulele, selain wartawan sukses ia juga politisi hebat.

“Dia bilang kerja jurnalis itu bukan sampingan, jurnalis harus jadi panggilan jiwa,” jelasnya.

Aminuddin Ponulele merupakan lulusan sarjana di jurusan Biologi, FKIP Manado, pada tahun 1967. Kemudian melanjutkan pascasarjananya di Institut Pertanian Bogor (ITB), dalam bidang Evironmental study pada tahun 1988.

Pada tahun 1994 hingga 1998 ia menjadi Rektor Universitas Tadulako Palu, dan menjadi guru besar di Fakultas Pertanian, Untad, pada disiplin ilmu biologi dan ekologi pada 1993-2000.

Sementara karir politiknya melejit sejak 1988 sampai 2019, ia dipilih menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dari Partai Golkar, yang sejak tahun itu ia adalah ketua DPD I Golkar Sulawesi Tengah. Tahun 2001-2006 ia kemudian terpilih menjadi orang nomor satu di Sulawesi Tengah.

Karir politiknya berlanjut kembali. Diumurnya yang tidak muda lagi pada saat itu, ia masih dipercayakan untuk menjadi ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah pada 2009-2019.

Tapi, itu merupakan sebagian kecil dari beberapa jabatan yang diemban Profesor Aminuddin Ponulele.

Rabu, 27 Januari 2021, sang profesor harus dipanggil sang pencipta. Kepergian almarhum meninggalkan seorang isteri, Nurhayati Ponulele.

Raga beliau sudah menghadap sang pencipta, namun jasanya mengabdi untuk negeri akan dikenang sepanjang masa.(anjas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed