oleh

Petani Sumsel keluhkan kelangkaan pupuk

Palembang, jurnalsumatra.com – Sejumlah petani di Sumatera Selatan mengeluhkan kesulitan mendapatkan pupuk yang terjadi pada musim tanam sejak awal tahun 2021.

Khoiril Sabili, petani asal Ogan Komering Ulu Timur di Palembang, Selasa, mengatakan, keadaan itu membuat proses tanam menjadi kurang maksimal.

“Ya terpaksa, pupuk yang diberikan jumlahnya beda dari biasa ,” kata dia.

Khoiril yang merupakan anggota Himpunan Kerukunan Tani Indonesia ini mengatakan sebagian besar petani di daerahnya mengandalkan pupuk nonsubsidi lantaran alokasi untuk subsidi terbilang terbatas.

Terdapat selisih harga sekitar Rp40 ribu/Kilogram jika dibandingkan dengan pupuk subdisi.

“Kami mengharapkan pupuk ini jangan langkah. Sudah yang subsidi tidak dapat, ini yang nonsubsidi juga sulit didapatkan,” kata dia.

Senada, Wawan Darmawan, petani dari Desa Muara Telang, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, membenarkan bahwa terjadi kelangkaan pupuk saat musim tanam Januari hingga Februari.

Keadaan ini dikeluhkan petani, sementara di sisi lain pemerintah setempat menargetkan terjadi kenaikan produksi.

“Pupuk subsidi itu sangat terbatas, jumlahnya tak seberapa. Sehingga petani banyak yang nonsubsidi, tapi kenyataannya kami juga sulit mendapatkannya,” kata dia.

Direktur Keuangan dan Umum Saifullah Lasindrang PT Pusri dijumpai seusai Rapat Koordinasi Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura se-Sumsel di Palembang, Selasa (23/2), mengatakan, Pusri sebagai BUMN yang dipercaya negara untuk menyalurkan pupuk subsidi memiliki mekanisme untuk penyalurannya.

Pada 2021, Pusri berkewajiban menyalurkan 230.000 ton pupuk urea dan NPK bersubsidi ke 17 kabupaten/kota di Sumsel.

“Tugas kami memastikan 100 persen pupuk itu tersalurkan selama Januari hingga Desember 2021,” kata dia.

Terkait kebutuhan petani, Pusri juga menyediakan pupuk nonsubsidi yang mana kapasitas produksi perusahaan dipastikan akan memenuhi kebutuhan Sumsel.

“Kami pun sudah menyakinkan Pemprov Sumsel bahwa siap mendukung target masuk tiga besar lumbung pangan nasional,” kata dia.

Vice President (VP) Humas PT Pusri Soerjo Hartono menambahkan Pusri memastikan distribusi pupuk subsidi sesuai dengan mekanisme Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Elektronik (e-RDKK) yang dikelola Kementerian Pertanian.

Penerapan sistem e-RDKK ini dapat meminimalisir penyelewengan sehingga penyaluran pupuk bersubsidi menjadi tepat sasaran.

Seperti diketahui, usulan kebutuhan pupuk subsidi yang tercantum di e-RDKK dievaluasi Kementan untuk diterbitkan dalam SK Mentan tentang jumlah alokasi. Dari SK tersebut kemudian terbit SK tingkat provinsi dan SK tingkat kabupaten sebagai dasar produsen pupuk menyalurkan ke petani.

Dalam menyalurkan pupuk bersubsidi, Pusri mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 15/M-DAG/PER/4/2013 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian secara nasional mulai dari Lini I sampai dengan Lini IV.

Kemudian, Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01 Tahun 2020 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk bersubsidi sektor pertanian tahun anggaran 2020, Juncto Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2020. Kedua aturan tersebut sebagai pedoman produsen, distributor, dan penyalur yang wajib dipenuhi dalam proses penyaluran pupuk bersubsidi.

Sejauh ini, Pusri memastikan stok pupuk subsidi tersedia sesuai dengan alokasi yang ditetapkan pemerintah.

Selain menjamin terpenuhinya stok pupuk di kios pengecer, Pusri juga memastikan dalam penyaluran pupuk bersubsidi tidak terjadi penyelewengan dan kelangkaan pupuk.

Untuk wilayah Sumatera Selatan, Soerjo mengatakan bahwa sampai dengan 8 Februari 2021, penyaluran pupuk urea subsidi mencapai 11.607,30 ton dan pupuk NPK Subsidi telah tersalurkan sebesar 10.657,55 ton.

Sedangkan untuk wilayah Banyuasin, stok urea subsidi yang tersedia sebesar 5.209,65 ton dan stok NPK Subsidi disiapkan sebanyak 3.704,5 ton.(anjas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed