oleh

Kemenparekraf jaring pengembang untuk bersaing di industri digital

Bandung, Jurnalsumatra.com – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) kembali menjaring talenta para pengembang (developer) untuk mengembangkan aplikasi digital yang berkualitas dan memiliki daya saing melalui Baparekraf Developer Day (BDD) 2021 di Bandung, Jawa Barat, Sabtu.

Deputi Bidang Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenparekraf Muhammad Neil El Himam mengatakan ajang itu bertujuan mengasah kemampuan teknis pengembang aplikasi di Indonesia dengan mempertemukan para pelaku dan praktisi di industri digital kreatif dengan para developer dalam sebuah sesi transfer pengetahuan dengan standar industri.
“Untuk itu Baparekraf Developer Day ini digelar khusus secara daring untuk meningkatkan ekosistem developer lokal dan mendorong sinergi pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas developer, agar dapat bersaing di tingkat nasional, regional, maupun global,” kata Neil.
Dia juga menjelaskan BDD tahun ini hadir dalam terdapat empat pilihan track yang tersedia yakni Android Track, Web Track, Machine Learning Track, dan Back-End Developer Track. Pada tahun 2020 BDD telah ditonton lebih dari 130 ribu kali melalui kanal youtube Baparekraf Developer Day.
Selain itu, menurutnya, tahun ini Kemenparekraf kembali memberikan fasilitasi Baparekraf Digital Talent (BDT) kepada lebih dari 1.500 developer. Untuk tahun ini BDT akan memberikan fasilitasi dua pilihan track, yakni Android dan Web.
Fasilitasi BDT tahun ini, kata dia, difokuskan untuk memastikan developer mencapai tingkatan ahli (expert). Para developer dapat mengikuti fasilitas belajar secara gratis.
Peserta fasilitasi akan dibekali dengan materi, tutorial, latihan, pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dengan standar global, serta dukungan mentor, fasilitator dan forum diskusi daring.
Sementara itu,CEO Dicoding Indonesia Narenda Wicaksono mengatakan kondisi tren industri saat ini membutuhkan developer terampil. Karena banyak lulusan pendidikan di sektor ilmu teknologi yang tidak terserap di berbagai industri.
“Indonesia saat ini kekurangan developer-developer terampil, Kekurangan ini bukan hanya dari kuantitas dan tapi juga dari kualitas,” kata Narenda.
Menurutnya, ilmu pengetahuan tentang teknologi cukup cepat sekali mengalami pembaruan, sehingga para calon developer pun perlu terus memperbarui keahliannya seiring dengan perkembangan zaman.
“Latar belakangnya bisa siapa aja, nggak harus IT (ilmu teknologi), ada anak SMK kerja di kios fotocopy sekarang di developer, untuk belajar menjadi developer sebenarnya harus berniat aja, nggak harus punya background di IT,” kata Narenda.(anjas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed