oleh

Pengrajin noken di Papua Barat dilatih menggunakan alat pintal

Manokwari, jurnalsumatra.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Papua Barat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah itu melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal kerajinan noken.

Salah satu upaya itu diwujudkan BI Papua Barat lewat pelatihan alat pintal noken kepada kelompok Mama Papua di Manokwari binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) provinsi itu.

“Pelatihan penggunaan alat pintal noken ini sebagai wujud nyata menciptakan UMKM yang berdaya saing, kreatif, tangguh dan berkelanjutan untuk mendukung pembangunan ekonomi berbasis kearifan lokal,” kata Kepala perwakilan BI Papua Barat Rut W.Eka Trisilowati di Manokwari, Selasa.

Noken adalah tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya tas ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Noken sebagai salah satu budaya Papua, telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada  4 Desember 2012. Noken digolongkan dalam kategori I need urgent safeguarding atau warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak.

“Berbagai pihak termasuk BI Papua Barat memberikan perhatian khusus untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Papua yang telah diakui dunia ini,” katanya.

Kegiatan pelatihan alat pintal noken itu diikuti empat kelompok pengrajin, yaitu kelompok noken Enago, kelompok usaha kreasi anyaman noken, kelompok noken Genemo dan kelompok noken Arfak.

“Masing-masing kelompok diwakili oleh 4 peserta sehingga secara total terdapat 12 Mama Papua pengrajin noken yang mengikuti kegiatan pelatihan ini,” ujar Eka.

Selain menyasar Mama Papua, Ia mengatakan pelatihan itu pun diikuti empat mahasiswa Universitas Papua.

“Empat orang mahasiswa kami ikut sertakan, supaya tumbuh semangat kebangaan dan jiwa kewirausahaan, sehingga kerajinan noken terus dilestarikan, dan diharapkan akan ditularkan kepada rekan-rekan lainnya di kampus,” ujar dia.

Dia berharap pelatihan selama tiga hari (27 – 29 April 2021), para peserta dapat mengaplikasikan pengetahuannya untuk mengoptimalkan alat pemintal.

“Harapan kami, peserta bisa mengoperasikan aalat pemintal sehingga dihasilkan anyaman yang berkualitas tinggi dan pada gilirannya kerajinan itu bisa naik kelas sejalan dengan trend mode fashion nasional bahkan internasional,” tutur Eka.

Eka berujar, pelatihan alat pintal noken itu dipandu oleh Yayasan Nirudaya Nusantara, seiring perkembangan terbaru alat pintal noken yang dibuat oleh Yayasan itu.

“Alat pintal noken inj telah mengalami peningkatan dengan teknologi terbaru antara lain, menggunakan sistem kontrol push-on pedal sehingga lebih mudah dioperasikan,” tambah Eka.

Proses pemintalan akan jauh lebih cepat diselesaikan hanya membutuhkan pasokan daya 80 watt sehingga lebih hemat energi pula.

“Body mesin terdiri dari kayu limbah dan limbah lapis sehingga lebih ringan untuk dibawa ke mana-mana namun tetap berkualitas,” katanya lagi.

Kantor perwakilan BI Papua Barat melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) akan memberikan bantuan alat pintal noken untuk kelompok pengrajin di akhir mengikuti kegiatan ini.

“Setiap kelompok akan diberikan satu alat, serta juga memberikan bantuan perlengkapan bahan baku berupa bahan baku melinjo atau mahkota dewa, gersen hutan dan peralatan pendukung seperti gunting pisau cutter baskom dan ember,” ujar dia.

Selama ini pengerjaan kreasi noken masih dilakukan secara manual dan berdampak pada kondisi fisik para pengrajin terutama di bagian kaki, karena terdapat proses produksi serat kayu yang dilinting untuk menghasilkan serat kayu yang lebih halus sebagai bahan baku noken.

“Sehubungan dengan alat pintal noken yang telah tiba di Manokwari ini akan menjadi solusi pertama bagi para pengrajin noken. Karena sejauh yang kami ketahui, alat pintal ini belum pernah ada sebelumnya di provinsi Papua Barat,” katanya.(anjas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed