oleh

BUMD minta Kementerian Investasi datangkan investor ke KEK Palu

Palu, jurnalsumatra.com – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov Sulteng, PT Bangun Palu Sulawesi Tengah (BPST) berharap pemerintah pusat bisa menarik minat investor berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, Sulteng.

“Peluang investasi di kawasan industri Palu sangat terbuka, karena itu pemerintah melalui Kementerian Investasi diharapkan bisa mendorong percepatan peningkatan investasi di KEK Palu,” kata Direktur PT BPST Mulhanan Tombolotutu, di Palu, Kamis.
Kawasan industri Palu sangat strategis untuk percepatan peningkatan investasi, karena memiliki karakteristik tersendiri sebagai jalur perdagangan internasional.
Bila ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur, kemudian mendapat dorongan Pemerintah Pusat dalam kolaborasi mendatangkan investor, bukan tidak mungkin Sulteng menjadi KEK untuk penyangga kawasan Indonesia bagian Timur.
Mulhanan menjelaskan, beberapa tahun terakhir  BPST sebagai Badan Usaha Pembangunan dan Pengelola KEK Palu belum bisa berbuat banyak karena tahun 2018 Palu sedang dilanda bencana alam dan anggaran dialihkan pada kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Tahun 2019 kami baru bangkit, namun disusul pandemi COVID-19 pada 2020 sehingga anggaran pemerintah daerah maupun pusat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Maka di tahun 2021 kami berharap Kementerian Investasi bisa mendorong investasi ke KEK Palu,” ujar Mulhanan.
KEK Palu memiliki tiga zona yakni, zona logistik, industri manufaktur dan pengolahan ekspor. Yang mana, hasil-hasil pertambangan mineral di olah di kawasan industri KEK yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) atau sudah memiliki lahan yakni pabrik material Aspal Buton milik PT Asbuton Jaya Abadi.
Lalu, perusahaan yang sedang menyelesaikan proses dokumen administrasi termasuk NIB yakni perusahaan pengolahan nikel, tembaga, besi serta mangan.
Selain itu, ada juga pengolahan komoditas sektor perkebunan yakni kakao, kelapa dan jagung. Pada komoditas kelapa ada tiga perusahaan hilirisasi diantaranya perusahaan asal Cina, India dan Indonesia.
“Begitu pun hilirisasi hasil kehutanan, yakni pengolahan getah pohon pinus yang saat ini sudah melakukan kegiatan ekspor oleh PT Hong Thai Internasional, kemudian pabrik rotan,” ujar Mulhanan.
Dari sisi geografis, Sulteng berbatasan langsung dengan sembilan provinsi di tanah air dan dua negara yakni Malaysia dan Filipina.

“Di arah timur, Sulteng berbatasan dengan Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Lalu wilayah Utara berbatasan dengan Provinsi Gorontalo, bagian Tenggara serta Selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Di sisi barat berbatasan dengan Sulawesi Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

“Potensi yang ada di Sulteng butuh dukungan pemerintah pusat untuk pengembangannya,” demikian Mulhanan.(anjas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed