Gelar-Gelar Bangsawan di Palembang Tidak Ada Kelas

Jurnal Sumatra - 25/09/2020 10:26 PM
Gelar-Gelar  Bangsawan di Palembang Tidak Ada Kelas
Poto: Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM. Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn menggelar diskusi mengenai gelar-gelar bangsawan Palembang di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan M. Mansyur no. 776, Palembang, Jumat (25/9/2020). - ()
Editor

Palembang, jurnalsumatra.com – Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM. Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn menggelar diskusi mengenai gelar-gelar bangsawan Palembang  di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam di Jalan Sultan M. Mansyur no. 776, Palembang, Jum’at (25/9/2020).

Acara tersebut diikuti berbagai kalangan terutama masyarakat kota Palembang. Hadir mendampingi SMB IV, Raden Zainal Abidin Rahman Dato’ Pangeran Puspo Kesumo,R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Vebri Irwansyah, Pangeran Jayo Syarif Lukman, Pangeran Surya Kemas A. R. Panji dan Beby  Johan Saimima.

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM. Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn mengatakan, diskusi kali ini membahas gelar-gelar bangsawan Palembang.

“ Kita ini mempunyai gelaran nasab bangsawan yang memang kemarin saya kuatkan pendapat Van Seven Hoven dan pendapat dari Vebri Al Lintani  berdasarkan cerita-cerita yang ada di masyarakat sehingga masyarakat menjadi jelas, gelaran-gelaran yang ada di Palembang itu seperti  apa, baik raden, kiagus, kemas dan masagus sudah jelas, jadi masyarakat Palembang mengenal identitas mengenai gelaran-gelaran tersebut,” katanya.

Diskusi ini menurut pria yang merupakan notaris dan PPAT sangat menarik karena banyak orang Palembang tidak tahu gelarannya dari mana.

“ Kemarin kita melontarkan tulisan berdasarkan pendapat seseorang  ternyata banyak yang tidak menyukainya , kontra, padahal pendapat tersebut sudah banyak dikutip dari buku dan tesis, jadi harusnya kita mulai kaji, supaya pendapat itu tidak muncul lagi, kenapa saya keluarkan pendapat itu  supaya masyarakat merasa terpancing dan ingin tahu seperti apa mereka, sekarang mereka sudah tahu  dan sudah jelas, jadi kalau ada masyarakat yang tersinggung, kita juga minta maaf karena tujuannya ini untuk edukasi kita sendiri,” katanya.

Kedepan menurutnya pihaknya akan terus rutin melakukan kajian dan diskusi lanjutan  tiap minggunya mungkin dua kali yang nanti akan kita share di group  ataupun di IG dan twiter.

Sedangkan Pangeran Suryo Vebri Irwansyah mengatakan, kalau di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam ini  rutin melakukan diskusi rutin  dan hari ini temanya tentang gelar-gelar bangsawan Palembang Darussalam dimana latar belakang  kegiatan ini karena ada dinamika  group di Zuriat Palembang Darussalam orang yang bertanya dan salah paham terhadap tulisan PDF dari  SMB IV yang mengutip pendapat Van Seven Hoven  yang juga dikutip dari tulisan lain  yang melihat gelar-gelar bangsawan Palembang itu dalam perspektif kolonial.

Dan menurutnya Van Seven Hoven melihat dan membandingkan bangsawan Palembang itu sama di Jawa, ada klasifikasi , ada kelas dan sebagainya.

“ Padahal sebenarnya dalam praktek sehari-hari itu tidak ada , jadi kita memberikan pemahaman yang jelas dalam perspektif kita bahwa gelar bangsawan di Palembang tidak ada kelas,” katanya.               

Selain itu perspektif masyarakat melihat kijing-kijing rumah limas itu simbol dari gelar-gelar bangsawan Palembang dan itu salah karena pada kenyataannya kijing yang pertama bukan untuk raden saja  tapi untuk orang-orang yang cakap didalam keagamaan  yaitu cakap mengaji, cakap ceramah, cakap dalam memimpin tahlil dan berdoa.

“ Sehingga orang-orang yang dianggap mempunyai kecakapan maka duduk di kijing atas ,” katanya. Dalam diskusi tersebut menurutnya juga disepakati orang Palembang seharusnya bersatu , karena gelar-gelar itu sendiri adalah mandat dari leluhur memakai gelar itu .

“Kita tahu raden itu diturunkan dari Abdurahman , beliau adalah sultan yang alim sampai ke SMB II yang alim dan yang ditinggikan dalam pengertiannya , maka kalau dia memakai gelar raden dia harus meninggikan dirinya sendiri bukan sombong tetapi dengan meninggikan orang lain otomatis dia akan meninggikan dirinya sendiri begitupula gelar-gelar lain,” katanya.

Dan gelar yang dipakai oleh orang-orang Palembang itu adalah gelar yang mulia semua yang tidak boleh dia mengkhianati gelar itu  atau lecehkan gelar yang dia punya.

“ Kalau ngomong sembarangan , ngomong basing-basing  kata uwong itu, itu bukan gelar orang Palembang, jadi orang Palembang harus menjaga itu, ini hasil diskusi kita, akan kita bukukan lagi ,  agar orang-orang Palembang paham terhadap asal –usulnya sendiri,” katanya.

Sedangkan budayawan Palembang  Kemas Anwar Beck atau akrab disapa Yai Beck mengapresiasi diskusi ini, menurutnya perlu banyak menyatukan pendapat masyarakat sehingga bisa clear sehingga masyarakat tahu yang sebenarnya dan bukan untuk memecah bela.

“ Jadi dengan adanya Kesultanan kita bisa bersatu padu untuk menyongsong masa depan kita , orang Palembang tetap bersatu dan tetap nomor satu wong Plembang,” katanya sembari mengatakan dirinya  setuju kedepan Kesultanan Palembang rutin melakukan diskusi  untuk kemaslahatan orang Palembang sendiri.(udy)

Komentar telah ditutup.

Untitled Document
HUBUNGI KAMI
  • E-Mail: jurnalsumatra@yahoo.co.id

SERTIFIKASI DEWAN PERS

Dilarang mengutip isi berita dan karya jurnalistik dari portal jurnalsumatra.com tanpa izin resmi dari management dan redaksi.

PENGUNJUNG

  • 4
  • 5,091
  • 131
  • 4,639,777
  • 1,920,143
  • 0
  • 17

RUANG IKLAN

 

 

Arsip