Konversi lahan jadi dilema untuk kembalikan kejayaan jalur rempah

Jurnal Sumatra - 23/10/2020 9:39 AM
Konversi lahan jadi dilema untuk kembalikan kejayaan jalur rempah
 - (Jurnal Sumatra)
Editor

Jakarta, jurnalsumatra.com – Profesor riset bidang sejarah lokal dan global Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Erwiza Erman mengatakan persoalan mengembalikan kejayaan jalur rempah memang menjadi dilema karena konversi lahan penghasil rempah ke tambang dan perkebunan kelapa sawit pesat terjadi.

“Ini sebenarnya dilema juga sekarang kita sedang gencar-gencarnya webinar dari barat sampai ke timur Indonesia, setiap hari dan setiap minggu seminar tentang jalur rempah untuk diajukan ke UNESCO, tetapi persoalannya wilayah-wilayah pertanian untuk rempah ini juga berkurang,” kata Erwiza dalam webinar Prospek Jalur Rempah dalam Diplomasi Ekonomi Indonesia di Afrika yang digelar Pusat Penelitian Kewilayahan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diakses di Jakarta, Kamis.

Peneliti senior pada Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI itu mengatakan persoalan mengembalikan lagi kejayaan rempah-rempah menjadi dilematis karena sebagian besar wilayah pertanian di Indonesia sudah dikonversi untuk wilayah tambah dan perkebunan kelapa sawit.

Jadi, menurut dia, perlu ada kerja sama dengan pemangku kepentingan yang mengurusi persoalan tanah dan pertanian supaya rempah-rempah yang dulu bisa berjaya dapat ditanam kembali di Indonesia.

Erwiza mengatakan memang perlu proses jika ingin mengembalikan kejayaan Jalur Rempah. Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadikannya sebagai komoditas primer yang diekspor seperti dulu, tapi bisa dalam bentuk bumbu atau produk jadi lainnya, sehingga ada nilai tambah.

Sama halnya dengan kondisi Maluku sebagai produsen cengkeh dan pala yang banyak mengalami konversi lahan ke tambang dan perkebunan kelapa sawit, Bangka-Belitung yang sebelumnya masyhur diketahui sebagai wilayah produsen lada kini sudah sangat berkurang dengan kehadiran tambang berskala kecil di sana.

“Bangka-Belitung sendiri sudah sangat berkurang dengan adanya tambang berskala kecil di sana ya. Tidak bisa dikembalikan lagi untuk wilayah lada,” kata Erwiza.

Ia mengatakan semua itu bukan persoalan kecil. “Ini persoalan besar kalau kita hendak meningkatkan kembali, atau mengembalikan lagi kejayaan masa lalu tentang rempah-rempah ini,” katanya.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia Republik Indonesia untuk Mozambik dan Malawi Herry Sudrajat mengatakan kini rempah-rempah Indonesia agak sulit bersaing dengan produk dari Afrika Selatan yang jaraknya begitu dekat dengan Mozambik. Tapi jika itu diolah dalam bentuk bumbu kesempatan itu masih terbuka.

“Apalagi kalau di sana ada outbound investment seperti Indomie yang menyerap rempah-rempah atau bumbu kita untuk masuk ke sana. Nah ini bisa menaikkan ekspor rempah-rempah dan bumbu Indonesia,” kata Herry.

Jadi, ia kembali mengatakan untuk mengembalikan rempah-rempah Indonesia di Afrika perlu terobosan, salah satunya dengan membangun pabrik pengolahan. Karena jelas tidak mungkin menguasai pasar jika hanya mengandalkan masyarakat Indonesia yang ada di sana untuk menggunakan rempah-rempah dalam skala rumahan.

“Kalau mengandalkan masyarakat Indonesia di sana untuk digunakan yang sifatnya rumahan masih kecil sekali, saingannya dengan Afrika Selatan dan Portugal, jadi sulit juga. Jadi saya kira harus ada pabrik di sana untuk memproduksi produk-produk yang menggunakan rempah-rempah Indonesia,” kata Herry.(anjas)

Komentar telah ditutup.

Untitled Document
HUBUNGI KAMI
  • E-Mail: jurnalsumatra@yahoo.co.id

SERTIFIKASI DEWAN PERS

Dilarang mengutip isi berita dan karya jurnalistik dari portal jurnalsumatra.com tanpa izin resmi dari management dan redaksi.


PENGUNJUNG

  • 1
  • 1,056
  • 208
  • 4,743,556
  • 1,942,712
  • 0
  • 17

RUANG IKLAN

 

 

Arsip