Menularkan Cinta Lingkungan Hadapi Perubahan Iklim

Jurnal Sumatra - 25/10/2019 10:00 AM
Menularkan Cinta Lingkungan Hadapi Perubahan Iklim
 - ()
Editor

Jakarta, jurnalsumatra.com – Merawat lingkungan dan melestarikan hutan bagian dari upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Aksi ini tentunya perlu “mewabah” di masyarakat sehingga mereka bersama-sama membangun Bumi yang lestari untuk menjaga keberlangsungan hidup di muka Bumi.

  Alumnus School of Eco Diplomacy 2018 Alfa Ahoren bersama teman-temannya menularkan cinta lingkungan untuk membangkitkan semangat melestarikan hutan dan merawat lingkungan guna menghadapi masalah perubahan iklim.

  “Kami memberikan penyadaran kepada anak-anak muda tentang penyelamatan dan pelestarian lingkungan,” ujar Alfa dalam diskusi interaktif pemuda dengan tema “Pemuda Milenial Penjaga Hutan di Timur Indonesia” di Arborea Cafe di Kawasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta, Kamis.

  Salah satu kegiatan yang dilakukan di Manokwari yakni diseminasi bahaya sampah plastik.

  “Kalau kita menggunakan sampah plastik dan tidak didaur ulang kembali akan membahayakan makhluk hidup di laut, itu kampanye di Manokwari,” tuturnya.

  Alfa mendapatkan pembekalan tentang pentingnya hutan dan pelestarian lingkungan hidup selama belajar di School of Eco Diplomacy pada 2018 bersama 29 anak lainnya. Mereka menjadi “duta-duta” yang menularkan cinta lingkungan di daerah masing-masing dan ke mana pun mereka pergi.

  Sebesar 70 persen dari angkatan School of Eco Diplomacy pada 2018 merupakan anak-anak muda dari timur Indonesia. Mereka tinggal sementara dan belajar tentang menjaga hutan dan lingkungan di area Pegunungan Arfak di Provinsi Papua Barat.

  “Kami belajar pentingnya hutan, bagaimana kami bisa menjaga hutan yang ada di wilayah kami,” ujarnya.

  Angkatan pertama School of Eco Diplomacy yang berisikan 30 siswa itu fokus belajar dan mengamati situasi yang terjadi mengenai isu lingkungan dan bagaimana upaya penyelamatan lingkungan harus dilakukan sedini mungkin.

  Dalam menularkan virus “cinta lingkungan”, Alfa juga mendorong peningkatan kesadaran terhadap masyarakat sekitar dan praktik langsung merawat dan menjaga lingkungan, seperti bersih-bersih daerah eko wisata dari sampah.

  Mereka melakukan edukasi tentang lingkungan kepada masyarakat, melakukan aksi memungut sampah di Taman Wisata Alam Gunung Meja, dan bersih-bersih lokasi di Pantai Petrus Kafiar di Manokwari, Papua Barat.

  Alfa dan teman-teman juga menggerakkan anak-anak dan dewasa untuk mengurangi sampah plastik dan menggunakan botol minuman yang dapat dipakai berulang kali.

  “Kalau bukan kita siapa lagi bisa selamatkan Bumi ini. Bumi ini adalah tempat hidup kita sendiri untuk kita jaga dan lestarikan,” ujarnya.

  Selain Alfa, inisiator Rumah Bakau Papua Abdel Gamel Naser juga mendorong berbagai komunitas untuk peduli dan cinta lingkungan.

  Gamel membentuk Rumah Bakau Papua sebagai wadah berkumpulnya komunitas-komunitas yang fokus terhadap alam dan lingkungan hidup.

  Di Rumah Bakau inilah, Gamel dan berbagai komunitas yang memiliki kepedulian terhadap alam, hutan, dan lingkungan hidup membahas dan menghasilkan upaya dari pemikiran serta gagasan mendalam tentang penyelamatan lingkungan, pelestarian alam, dan penanganan perubahan iklim.

  “Di Rumah Bakau, saya terus menularkan isu tentang lingkungan seperti bahaya sampah plastik,” tuturnya.

  Gamel bahkan mengatakan orang-orang yang berkumpul di Rumah Bakau justru menjadi berpikir idealis untuk gencar merawat dan menjaga lingkungan. Mereka yang biasa memakai botol plastik sekali pakai, kini beralih ke wadah yang bisa berulang kali pakai.

  Para pegiat komunitas yang berhasil dihimpun juga melakukan penanaman mangrove dan mengajarkan cinta lingkungan kepada masyarakat.

  Gamel juga menjadi Koordinator Lingkungan di Forum Komunitas Jayapura yang didirikan pada 21 Juli 2018. Forum ini terdiri atas himpunan komunitas di Papua yang memiliki berbagai latar belakang, termasuk bidang lingkungan dan olahraga.

  Sekali pun berbeda-beda komunitas yang tergabung di dalam forum itu, Gamel kerap kali menyisipkan isu lingkungan dan memprovokasi upaya pelestarian hutan dan lingkungan.

  Bahkan, tidak sedikit kegiatan nyata yang dilakukan untuk melestarikan lingkungan dan alam, di antaranya aksi bersih-bersih lingkungan dari sampah dan penanaman mangrove. Bahkan, mereka rutin melakukan aksi bersih-bersih pantai.

  Menurut Gamel yang merupakan wartawan media Cenderawasih Pos di Papua, gerakan-gerakan cinta lingkungan dan penyelamatan lingkungan meskipun dimulai dari hal kecil tetapi akan berdampak besar bagi upaya penanganan perubahan iklim dan pelestarian alam, jika dilakukan berkelanjutan dan dalam gerakan yang masif dan menyebar.

  Dia berharap, seluruh daerah di Indonesia gencar melakukan penyelamatan lingkungan untuk penanganan perubahan iklim sehingga Bumi tetap lestari.

  Bagi Gamel, anak-anak muda merupakan agen perubahan yang jika digerakkan akan memiliki dampak yang besar untuk menjaga lingkungan.

  Untuk itu, dia mengajak anak-anak muda, baik yang ada di kota maupun desa, untuk aktif terlibat dalam menjaga Bumi, melestarikan alam, dan melakukan praktik baik merawat lingkungan seperti memakai wadah yang berulang kali pakai untuk menggantikan kemasan atau bungkus plastik sekali pakai, maupun membuang sampah pada tempatnya dan mendaur ulang sampah.

  Penyadaran terhadap kelestarian lingkungan dan bahaya yang mengancam Bumi dan lingkungan harus terus dilakukan hingga akar rumput.

  Sementara itu, Direktur Program Yayasan EcoNusa Muhammad Farid mengajak semua pihak untuk menjaga kelestarian hutan.

  Hutan primer harus tetap dipertahankan dan pemanfaatan hutan diharapkan melalui jasa lingkungan bukan eksploitasi yang berujung perusakan hutan.

  Segala bentuk perusakan hutan dan lingkungan harus dihentikan karena akan semakin berdampak buruk bagi keberlangsungan hidup di Bumi dan memperparah pemanasan global.

  Hutan yang juga berperan penting menjadi penopang kehidupan harus dilestarikan, dan untuk mewujudkannya semua pihak harus memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian Bumi.

  “Kami mendukung inisiatif lokal di Papua untuk kepentingan hutan dan lingkungan, seperti eko wisata, menonton tarian indah dari burung Cenderawasih, dan bagaimana kita meningkatkan jasa lingkungan melalui komoditas yang ada,” ujarnya.

  Lewat berbagai kegiatan, pihaknya menularkan upaya untuk menjaga lingkungan, membangun pengetahuan tentang pelestarian lingkungan dan fungsi hutan, serta membangun kesadaran masyarakat untuk menghindari kerusakan hutan.

  Di Papua, ada 33, 7 juta hektare hutan yang tentunya harus dijaga dan pengelolaan hutan yang ada juga harus bersifat berkelanjutan.

  Jika hutan rusak, lingkungan tidak lestari, maka umur Bumi tidak akan bertahan lama.

  Untuk itu, seluruh masyarakat harus melestarikan hutan dan lingkungan untuk kehidupan lestari di Bumi.(anjas)

Menularkan Cinta Lingkungan Hadapi Perubahan Iklim

Jakarta, jurnalsumatra.com – Merawat lingkungan dan melestarikan hutan bagian dari upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Aksi ini tentunya perlu “mewabah” di masyarakat sehingga mereka bersama-sama membangun Bumi yang lestari untuk menjaga keberlangsungan hidup di muka Bumi.

  Alumnus School of Eco Diplomacy 2018 Alfa Ahoren bersama teman-temannya menularkan cinta lingkungan untuk membangkitkan semangat melestarikan hutan dan merawat lingkungan guna menghadapi masalah perubahan iklim.

  “Kami memberikan penyadaran kepada anak-anak muda tentang penyelamatan dan pelestarian lingkungan,” ujar Alfa dalam diskusi interaktif pemuda dengan tema “Pemuda Milenial Penjaga Hutan di Timur Indonesia” di Arborea Cafe di Kawasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta, Kamis.

  Salah satu kegiatan yang dilakukan di Manokwari yakni diseminasi bahaya sampah plastik.

  “Kalau kita menggunakan sampah plastik dan tidak didaur ulang kembali akan membahayakan makhluk hidup di laut, itu kampanye di Manokwari,” tuturnya.

  Alfa mendapatkan pembekalan tentang pentingnya hutan dan pelestarian lingkungan hidup selama belajar di School of Eco Diplomacy pada 2018 bersama 29 anak lainnya. Mereka menjadi “duta-duta” yang menularkan cinta lingkungan di daerah masing-masing dan ke mana pun mereka pergi.

  Sebesar 70 persen dari angkatan School of Eco Diplomacy pada 2018 merupakan anak-anak muda dari timur Indonesia. Mereka tinggal sementara dan belajar tentang menjaga hutan dan lingkungan di area Pegunungan Arfak di Provinsi Papua Barat.

  “Kami belajar pentingnya hutan, bagaimana kami bisa menjaga hutan yang ada di wilayah kami,” ujarnya.

  Angkatan pertama School of Eco Diplomacy yang berisikan 30 siswa itu fokus belajar dan mengamati situasi yang terjadi mengenai isu lingkungan dan bagaimana upaya penyelamatan lingkungan harus dilakukan sedini mungkin.

  Dalam menularkan virus “cinta lingkungan”, Alfa juga mendorong peningkatan kesadaran terhadap masyarakat sekitar dan praktik langsung merawat dan menjaga lingkungan, seperti bersih-bersih daerah eko wisata dari sampah.

  Mereka melakukan edukasi tentang lingkungan kepada masyarakat, melakukan aksi memungut sampah di Taman Wisata Alam Gunung Meja, dan bersih-bersih lokasi di Pantai Petrus Kafiar di Manokwari, Papua Barat.

  Alfa dan teman-teman juga menggerakkan anak-anak dan dewasa untuk mengurangi sampah plastik dan menggunakan botol minuman yang dapat dipakai berulang kali.

  “Kalau bukan kita siapa lagi bisa selamatkan Bumi ini. Bumi ini adalah tempat hidup kita sendiri untuk kita jaga dan lestarikan,” ujarnya.

  Selain Alfa, inisiator Rumah Bakau Papua Abdel Gamel Naser juga mendorong berbagai komunitas untuk peduli dan cinta lingkungan.

  Gamel membentuk Rumah Bakau Papua sebagai wadah berkumpulnya komunitas-komunitas yang fokus terhadap alam dan lingkungan hidup.

  Di Rumah Bakau inilah, Gamel dan berbagai komunitas yang memiliki kepedulian terhadap alam, hutan, dan lingkungan hidup membahas dan menghasilkan upaya dari pemikiran serta gagasan mendalam tentang penyelamatan lingkungan, pelestarian alam, dan penanganan perubahan iklim.

  “Di Rumah Bakau, saya terus menularkan isu tentang lingkungan seperti bahaya sampah plastik,” tuturnya.

  Gamel bahkan mengatakan orang-orang yang berkumpul di Rumah Bakau justru menjadi berpikir idealis untuk gencar merawat dan menjaga lingkungan. Mereka yang biasa memakai botol plastik sekali pakai, kini beralih ke wadah yang bisa berulang kali pakai.

  Para pegiat komunitas yang berhasil dihimpun juga melakukan penanaman mangrove dan mengajarkan cinta lingkungan kepada masyarakat.

  Gamel juga menjadi Koordinator Lingkungan di Forum Komunitas Jayapura yang didirikan pada 21 Juli 2018. Forum ini terdiri atas himpunan komunitas di Papua yang memiliki berbagai latar belakang, termasuk bidang lingkungan dan olahraga.

  Sekali pun berbeda-beda komunitas yang tergabung di dalam forum itu, Gamel kerap kali menyisipkan isu lingkungan dan memprovokasi upaya pelestarian hutan dan lingkungan.

  Bahkan, tidak sedikit kegiatan nyata yang dilakukan untuk melestarikan lingkungan dan alam, di antaranya aksi bersih-bersih lingkungan dari sampah dan penanaman mangrove. Bahkan, mereka rutin melakukan aksi bersih-bersih pantai.

  Menurut Gamel yang merupakan wartawan media Cenderawasih Pos di Papua, gerakan-gerakan cinta lingkungan dan penyelamatan lingkungan meskipun dimulai dari hal kecil tetapi akan berdampak besar bagi upaya penanganan perubahan iklim dan pelestarian alam, jika dilakukan berkelanjutan dan dalam gerakan yang masif dan menyebar.

  Dia berharap, seluruh daerah di Indonesia gencar melakukan penyelamatan lingkungan untuk penanganan perubahan iklim sehingga Bumi tetap lestari.

  Bagi Gamel, anak-anak muda merupakan agen perubahan yang jika digerakkan akan memiliki dampak yang besar untuk menjaga lingkungan.

  Untuk itu, dia mengajak anak-anak muda, baik yang ada di kota maupun desa, untuk aktif terlibat dalam menjaga Bumi, melestarikan alam, dan melakukan praktik baik merawat lingkungan seperti memakai wadah yang berulang kali pakai untuk menggantikan kemasan atau bungkus plastik sekali pakai, maupun membuang sampah pada tempatnya dan mendaur ulang sampah.

  Penyadaran terhadap kelestarian lingkungan dan bahaya yang mengancam Bumi dan lingkungan harus terus dilakukan hingga akar rumput.

  Sementara itu, Direktur Program Yayasan EcoNusa Muhammad Farid mengajak semua pihak untuk menjaga kelestarian hutan.

  Hutan primer harus tetap dipertahankan dan pemanfaatan hutan diharapkan melalui jasa lingkungan bukan eksploitasi yang berujung perusakan hutan.

  Segala bentuk perusakan hutan dan lingkungan harus dihentikan karena akan semakin berdampak buruk bagi keberlangsungan hidup di Bumi dan memperparah pemanasan global.

  Hutan yang juga berperan penting menjadi penopang kehidupan harus dilestarikan, dan untuk mewujudkannya semua pihak harus memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian Bumi.

  “Kami mendukung inisiatif lokal di Papua untuk kepentingan hutan dan lingkungan, seperti eko wisata, menonton tarian indah dari burung Cenderawasih, dan bagaimana kita meningkatkan jasa lingkungan melalui komoditas yang ada,” ujarnya.

  Lewat berbagai kegiatan, pihaknya menularkan upaya untuk menjaga lingkungan, membangun pengetahuan tentang pelestarian lingkungan dan fungsi hutan, serta membangun kesadaran masyarakat untuk menghindari kerusakan hutan.

  Di Papua, ada 33, 7 juta hektare hutan yang tentunya harus dijaga dan pengelolaan hutan yang ada juga harus bersifat berkelanjutan.

  Jika hutan rusak, lingkungan tidak lestari, maka umur Bumi tidak akan bertahan lama.

  Untuk itu, seluruh masyarakat harus melestarikan hutan dan lingkungan untuk kehidupan lestari di Bumi.(anjas)

Komentar telah ditutup.

Untitled Document
HUBUNGI KAMI
  • E-Mail: jurnalsumatra@yahoo.co.id

SERTIFIKASI DEWAN PERS

Dilarang mengutip isi berita dan karya jurnalistik dari portal jurnalsumatra.com tanpa izin resmi dari management dan redaksi.


PENGUNJUNG

  • 2
  • 13,211
  • 586
  • 4,805,941
  • 1,948,541
  • 2
  • 17

RUANG IKLAN

 

 

Arsip