Sejarawan Sumsel Bacakan Dua Puisi Karya AK Gani

Palembang, jurnalsumatra.com – Dalam penutupan acara pembacaan  puisi karya  Dr AK Gani, Chairil Anwar, Taufik Ismail, Ws Rendra  dan karya penyair lainnya, dalam rangka  hari puisi  Indonesia tanggal 26 Juli 2020 yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni dan Budaya Teater Alam dan Museum Pahlawan Nasional Dr.A.K Gani di Museum Pahlawan Nasional Dr.A.K Gani di Jalan MP Mangkunegara, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sako, Palembang, Ahad (9/8/2020) yang dihadiri Gubernur Sumsel H Herman Deru, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Aufa Syahrizal Sarkomi, para penyair dan undangan lainnya.

Sejarawan Sumsel Kemas dan penulis buku Memoar Puisi A.K. Gani membacakan 2 puisi karya Dr AK Gani, berikut petikan puisi yg dibacakan oleh Sejarawan Sumsel,  Kemas Ari Panji.  Puisi pertama berjudul “Hukum Alam” :

HUKUM ALAM

Cacing lemah ayam kuat; cacing dimakan ayam

Ayam lemah musang kuat; ayam dimakan musang

..

Musang lemah macan kuat; musang dimakan macan

Macan lemah manusia kuat; macan dimakan manusia

Indonesia harus kuat;agar tidak dimakan penjajah

Selanjutnya dilanjutkan puisi Kedua bertajuk “Janggut”.

JANGGUT

Janggut pulang kedagu.

Ayam pulang kekolong.

Kambing pulang kekandang.

Manusia pulang kerumah

Bangsa pulang ke tanah air.

..

Kalau janggut tidak pulang kedagu, bukan janggut namanya.

Kalau ayam tidak pulang kekolong, bukan ayam namanya.

Kalau kambing tidak pulang kekandang, bukan kambing namanya.

Kalau manusia tidak pulang kerumah, bukan manusia namanya.

Kalau bangsa tidak pualng ketanah airnya, bukan bangsa namanya.

“Alhamdulillah, diacara penutupan tadi saya sempat membacakan 2 Puisi Karya A.K. GANI (1945-1946) dengan judul Hukum Alam dan Janggut,” kata Kemas Ari Panji sambil menutup pembicaraan.(udy)