SMB IV Terima Kunjungan Balitbang Kemenhan RI

Jurnal Sumatra - 23/09/2020 10:12 PM
SMB IV Terima Kunjungan Balitbang Kemenhan RI
Rabu (23/9) tim dari Balitbang Kemenhan RI melakukan kunjungan dan silaturahmi ke Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam yang terletak di Jalan Sultan Muhammad Mansyur, Palembang, Rabu (23/9/2020). - ()
Editor

Palembang, jurnalsumatra.com – Dua orang tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang)  Kementrian Pertahanan (Kemenhan)  Republik Indonesia (RI)  melakukan kunjungan ke kota Palembang selama beberapa hari dalam rangka penelitian terkait dengan benda cagar budaya bernilai pertahanan yang ada di kota Palembang.

Tim tersebut di ketuai Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H (Peneliti Ahli Muda Balitbang Kementrian Pertahanan RI) dengan anggota tim, Jeanne Francoise (Penulis Disertasi pertama tentang Defense Heritage dan Founder Defense Heritage Intellectual Community; Instagram @defenseheritage).

Rabu (23/9/2020) tim dari Balitbang  Kemenhan RI melakukan kunjungan dan silaturahmi ke Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam yang terletak di Jalan Sultan Muhammad Mansyur, Palembang, Rabu (23/9/2020). Dan diterima   oleh Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn.

Hadir mendampingi SMB IV, Raden Zainal Abidin Rahman Dato’ Pangeran Puspo Kesumo, R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Febri Irwansyah, dan Pangeran Jayo Syarif Lukman, Pangeran Surya Kemas A. R. Panji dan Beby  Johan Saimima.

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn mengapresiasi kedatangan tim dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang)  Kementrian Pertahanan (Kemenhan)  Republik Indonesia (RI)   terkait defence heritage Benteng Kuto Besak (BKB).

“ Benteng Kuto Besak ini merupakan khazanah yang harus dipertahankan  dan harus dilestarikan karena bukan hanya memiliki nilai  budaya dan historis tapi kedepannya bisa menjadikan nilai ekonomi dengan menjadikan aset wisata yang baik, “ katanya.

Pihaknya berharap terutama kepada pemerintah supaya Benteng Kuto Besak  bisa dijadikan cagar budaya yang bisa dinikmati semua orang.

“ Bagaimana masyarakat bisa masuk kesana dan bisa tahu sejarah, budaya dari Benteng Kuto Besak itu, karena saya yakin bukan cuma penduduk lokal yang akan bertanya kesana tapi masyarakat dari luar negeri dan lokal akan bertanya bagaimana zaman Kesultanan bisa membuat benteng sekuat dan sekokoh itu, itu menjadi pertahanan yang tidak bisa di tembus bom, Sultan tidak hanya membuat tempat bertahan sementara tapi benar-benar kokoh,” katanya. SMB IV menilai revitalisasi Benteng Kuto Besak dengan cara tukar guling dinilainya agak berat.

“ Sebaiknya kalau bisa , pemerintah pusat atau dari Kemenhan dan TNI membuat BKB sebagai situs atau museum daripada tentara itu mengenai historical ya  , enggak apa-apa tidak diserahkan kepemerintah karena mungkin ribet masalah tukar gulingnya ,apalagi Benteng Kuto Besak sudah masuk dalam daftar kekayaan Negara, khan susah disitu, lebih baik bagaimana pemanfaatannya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, walaupun itu  dikuasi oleh TNI,” katanya.

Pihaknya siap bersinergi dengan semua pihak untuk membentuk kembali bagaimana Benteng Kuto Besak seperti di masa lampau .

“ Kalau bisa disana dibuat  miniatur Kraton lagi , dibuat tempat penjualan souvenir , tempat-tempat dan pojok-pojok sejarah yang bisa mengundang wisatawan,” katanya. Sedangkan Gerald Theodorus L.Toruan, S.H.,M.H mengaku terkejut mendapatkan sambutan yang istimewa dari SMB IV dan jajaran.

“Kunjungan kami kesini dalam rangka penelitian terkait defence heritage dimana dikota Palembang dalam sejarahnya menyimpan dan masih ada cagar budaya pertahanan yang masih eksisting, masih dapat dilihat adalah Benteng Kuto Besak dimana ini adalah merupakan benda yang ditinggalkan dan bisa dikenal di masa Sultan Mahmud Badaruddin II,” katanya saat didampingi rekannya Jeanne Francoise.

Apalagi Benteng Kuto Besak menurutnya di bangun oleh orang Palembang sendiri. “ Kalau kita lihat benteng-benteng di Indonesia Timur itu dibuat oleh bangsa kolonial, kami kesini sifatnya penelitian, kami  hanya bisa memberikan rekomendasi kepada stekholder terkait m dan kami tidak bisa memberikan  kebijakan terkait,” katanya.

Apalagi dia melihat peluang dan potensi  Benteng Kuto Besak menjadi objek wisata sangat besar tapi   selama ada political will dari pemerintah setempat,  baik itu Pemprov, maupun Pemkot.

“Karena bicara pariwisata , Benteng Kuto Besak ini bisa menjadi investasi jangka panjang , mungkin bukan Gubernur atau Walikota sekarang mungkin 20 sampai 30 tahun kedepan baru terasa bahwa benteng ini bisa mendunia dan bisa mengundang turis asing datang ke Palembang, pajak makin meningkat, ada PAD, UMKM bisa tumbuh,” katanya sembari mengatakan Benteng Kuto Besar juga perlu dibangun narasi  sejarah sehingga bisa menarik turis berkunjung dan bisa dilakukan penelitian di Benteng Kuto Besak .

Pihaknya juga telah merekomendasikan kepada stekholder terkait terutama kepada Pemerintah Kota Palembang  agar program revitalisasi Benteng Kuto Besak yang sempat di rencanakan di tahun-tahun  sebelumnya diteruskan kembali tapi mungkin bisa ditukar inisiatornya Pemerintah Kota, karena Benteng Kuto Besak menjadi icon kota Palembang selain Sungai Musi, Jembatan Ampera.

“ Mudah-mudahan  kajian kami berdua ini  bisa membuka pikiran stekholder terkait untuk keberlangsungan Benteng Kuto Besak di tahun depan  atau beberapa tahun kedepan dan kita harus bersyukur dan berterima kasih karena Benteng Kuto Besak selama ini dipelihara  TNI dalam hal ini Kodam II Sriwijaya, kalau enggak ada mereka mungkin Benteng Kuto Besak sudah penuh coretan, sudah rusak sana sini ,”  katanya.(udy)

Komentar telah ditutup.

Untitled Document
HUBUNGI KAMI
  • E-Mail: jurnalsumatra@yahoo.co.id

SERTIFIKASI DEWAN PERS

Dilarang mengutip isi berita dan karya jurnalistik dari portal jurnalsumatra.com tanpa izin resmi dari management dan redaksi.

PENGUNJUNG

  • 5
  • 6,758
  • 424
  • 4,569,324
  • 1,903,060
  • 0
  • 17

RUANG IKLAN

 

 

Arsip