Tersangka sewa lahan menara di Sesela ditetapkan sebagai tahanan kota

Jurnal Sumatra - 21/10/2020 2:55 PM
Tersangka sewa lahan menara di Sesela ditetapkan sebagai tahanan kota
 - (Jurnal Sumatra)
Editor

Mataram, jurnalsumatra.com – Tersangka kasus dugaan korupsi sewa lahan menara telekomunikasi di Desa Sesela, Kabupaten Lombok Barat, berinisial ASM, ditetapkan sebagai tahanan kota oleh Kejaksaan Negeri Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Kasi Pidsus Kejari Mataram Wayan Suryawan di Mataram, Rabu mengatakan, tim jaksa penyidik menetapkan hal tersebut setelah mengetahui hasil tes cepat ASM yang menyatakannya reaktif COVID-19.

“Jadi waktu kesehatannya kami periksa, di ‘rapid test’ (tes cepat), hasilnya reaktif COVID-19. Itu yang kemudian menjadi pertimbangan kami untuk tidak melakukan penahanan rutan,” kata Wayan.

Pertimbangan lainnya dilihat dari sikap tersangka yang kooperatif. Mulai dari status saksi hingga ditetapkan sebagai tersangka, mantan Kades Sesela ini selalu hadir bila dipanggil oleh jaksa penyidik.

Selain itu, itikad baik tersangka yang menitipkan uang pengganti kerugian negara menjadi bahan pertimbangan. Kepada jaksa penyidik, tersangka menitipkan Rp53,8 juta dalam dua tahap. Sisanya Rp300 juta, sudah diterima dalam bentuk penitipan ke kas desa.

Jumlah keseluruhan kerugian negara itu muncul berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan NTB. Tim audit menilai harga sewa lahan sebagai “total loss” (kerugian total).

Lebih lanjut, Wayan mengatakan bahwa perkembangan penanganan perkara tinggal menunggu hasil penelitian jaksa. Bahkan untuk mempersingkat waktu, jaksa penyidik sedang menyiapkan rencana dakwaan untuk kebutuhan persidangan.

“Jadi kalau berkas sudah dinyatakan lengkap, kami langsungkan tahap duanya dan limpahkan berkas ke pengadilan,” katanya.

Penyewaan lahan untuk penempatan menara telekomunikasi itu dimulai pada tahun 2018, ketika tersangka masih menjabat Kepada Desa Sesela. Lahan yang disewakan adalah aset desa. Luasnya 64 meter persegi.

Dari perjanjiannya dengan pihak penyedia, lahan tersebut disewakan dengan harga Rp358 juta belum dikurangi pajak. Uang tersebut adalah biaya sewa yang dibayar untuk jangka waktu 10 tahun.

Namun demikian, proses sewa lahan tidak melalui pembahasan dan persetujuan APBDes. Bahkan uang itu pun langsung masuk ke rekening pribadi ASM tanpa sepengetahuan perangkat desa.

Dalam hal ini, tersangka diduga memanfaatkan posisi jabatannya dengan membuat surat kuasa pembayaran sewa lahan ke rekening pribadi.

Terkait dengan hal itu, ASM sebagai tersangka telah memberikan keterangan ke hadapan jaksa penyidik dengan menyatakan bahwa uang tersebut tidak sembarang digunakan. Melainkan penggunaannya untuk kemakmuran rakyat.

Kepada jaksa penyidik, ASM berdalih DD/ADD Sesela Tahun 2018 belum dapat dicairkan karena bertepatan dengan bencana gempa bumi.

Karena itu, ASM berinisiatif uang sewa lahan menara digunakan untuk menalangi kebutuhan darurat masyarakat yang terdampak dan sekaligus pembayaran honor kadus.

Namun setelah DD/ADD Sesela dapat dicairkan, uang sewa lahan yang sudah dikeluarkan untuk kebutuhan darurat desa kembali diklaim tersangka. Pengembaliannya ke kas desa, dilakukan setelah persoalan ini berkasus di kejaksaan.(anjas)

Komentar telah ditutup.

Untitled Document
HUBUNGI KAMI
  • E-Mail: jurnalsumatra@yahoo.co.id

SERTIFIKASI DEWAN PERS

Dilarang mengutip isi berita dan karya jurnalistik dari portal jurnalsumatra.com tanpa izin resmi dari management dan redaksi.


PENGUNJUNG

  • 6
  • 1,462
  • 276
  • 4,747,917
  • 1,943,803
  • 0
  • 17

RUANG IKLAN

 

 

Arsip